Ia menegaskan bahwa proyek ini telah dan berpotensi semakin merusak ekosistem, mengancam kehidupan sosial ekonomi warga, serta mengabaikan sejarah panjang kegagalan eksplorasi panas bumi di wilayah tersebut.

“Proyek geotermal di Mataloko sudah berlangsung selama dua dekade lebih dan terbukti menimbulkan kerusakan ekologis dan keresahan sosial. Maka, kami menilai bahwa keputusan menjadikan seluruh Flores sebagai ‘Pulau Panas Bumi’ adalah keliru dan tidak kontekstual,” tegas Ardin.

Beberapa alasan utama yang mendasari penolakan tersebut antara lain:

1. Kerusakan Lingkungan

Eksplorasi dan pembangunan proyek geotermal di Mataloko telah menyebabkan pencemaran udara, penurunan debit air di beberapa sumber mata air penting, serta penurunan produktivitas pertanian warga.

Warga setempat menyaksikan langsung dampak nyata terhadap lingkungan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

2. Ancaman Kehilangan Lahan Pertanian

Konversi lahan pertanian menjadi area proyek geotermal dianggap sebagai ancaman langsung terhadap ketahanan pangan dan ekonomi lokal.

“Lahan-lahan itu bukan hanya tanah, tapi napas hidup bagi petani kecil di Ngada,” tambah Ardin.