Komaruddin tidak sendiri. Ia akan memimpin lembaga ini bersama delapan anggota baru Dewan Pers: Abdul Manan, Dahlan Dahi, M. Busyro Muqoddas, Maha Eka Swasta, Muhammad Jazuli, Rosarita Niken Widiastuti, Totok Suryanto, dan Yogi Hadi Ismanto. Komposisi ini memadukan elemen wartawan, pengelola perusahaan pers, hingga tokoh masyarakat.
Namun, realitas yang mereka hadapi tidak ringan. Laporan Reporters Without Borders (RSF) tahun 2025 menempatkan kebebasan pers Indonesia di peringkat 127, turun signifikan dari posisi 111 pada 2024. Dalam negeri, data AJI Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen jurnalis pernah mengalami kekerasan, baik fisik maupun digital. Bahkan, 87 persen jurnalis perempuan menghadapi kekerasan seksual di ruang daring.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, turut mengingatkan bahwa tekanan terhadap pers tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam industri sendiri.
“Disrupsi digital dan kehadiran AI menyebabkan PHK massal di industri media. Ini bukan sekadar isu bisnis, tapi juga menyangkut hak publik atas informasi yang kredibel,” kata Meutya.
