Namun Yosef tak berhenti pada pujian dan semangat. Ia dengan jujur mengakui masih banyak pekerjaan rumah di Kabupaten Kupang.
“Saya tidak mau hanya bicara yang baik-baik saja,” katanya tegas. “Kita harus akui, Kabupaten Kupang belum punya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah masih berserakan di banyak titik. Ini perlu dibenahi bersama.”
Pernyataan itu memunculkan tepuk tangan spontan dari warga. Mereka tahu, keberanian untuk mengakui kekurangan adalah langkah pertama menuju perubahan.
Bagi Yosef, gotong royong bukan sekadar kegiatan fisik, tapi juga kesadaran moral — tentang tanggung jawab sosial, kebersihan lingkungan, dan kepedulian terhadap sesama. “Belajar cinta lingkungan adalah belajar mencintai kehidupan yang sehat,” ujarnya penuh penekanan.
Ketua panitia, Yunisthya Padja, menjelaskan bahwa kegiatan Bulan Bhakti Gotong Royong tahun ini berlangsung sebulan penuh. Berbagai kegiatan dilaksanakan, mulai dari perbaikan jalan usaha tani, pembangunan jamban sehat, gerakan pangan murah, hingga sosialisasi inseminasi buatan untuk ternak.
