Kupang, NTT – Musibah kebakaran kembali menyisakan duka di Kabupaten Kupang. Api melalap pemukiman warga di Desa Manusak, RT 11 RW 05 Dusun 4, Kecamatan Kupang Timur, serta Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, pada Sabtu (20/09/2025) siang. Belasan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus menatap hari dengan penuh kecemasan.

Namun, di tengah kepedihan itu, kehadiran pemerintah daerah memberikan sedikit kelegaan. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kupang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera turun tangan. Hanya sehari pasca kebakaran, pada Minggu (21/09/2025), tim BPBD bergerak cepat menyalurkan bantuan darurat kepada para korban.

Bantuan yang disalurkan berupa terpal untuk tempat tinggal sementara, pakaian, beras, kopi, gula, serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya. Meski sederhana, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian nyata dari pemerintah daerah. Kehadiran ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat tidak sendiri menghadapi musibah.

“Kami hadir untuk memastikan bahwa warga terdampak kebakaran tetap mendapat perhatian dan dukungan. Bantuan ini memang tidak bisa menggantikan kerugian, tapi diharapkan bisa meringankan beban sekaligus memberi semangat agar warga bisa bangkit kembali,” ujar pejabat BPBD Kabupaten Kupang saat menyerahkan bantuan.

Langkah cepat tersebut menjadi bukti komitmen Pemkab Kupang untuk tidak tinggal diam dalam situasi darurat. Kehadiran pemerintah bukan hanya formalitas, tetapi sebuah tindakan nyata yang diharapkan mampu memberikan rasa aman dan keadilan bagi seluruh warga.

Kebakaran yang terjadi di Desa Manusak dan Bolok membawa dampak besar bagi kehidupan warga. Sejumlah rumah rata dengan tanah, harta benda ludes terbakar, bahkan dokumen-dokumen penting pun ikut musnah. Bagi warga yang mayoritas mengandalkan hasil kebun dan pekerjaan harian, kehilangan tempat tinggal berarti kehilangan pusat kehidupan.

“Kami hanya bisa menyelamatkan diri dan anak-anak. Semua barang di rumah sudah habis terbakar. Tapi kami bersyukur masih ada kepedulian dari pemerintah,” ungkap salah seorang korban di Desa Manusak dengan suara lirih.

Warga Desa Bolok pun merasakan hal yang sama. Mereka menilai langkah cepat pemerintah daerah adalah bukti nyata bahwa masyarakat tidak ditinggalkan. “Kami masih trauma, tapi bantuan ini memberi harapan,” ujar seorang ibu rumah tangga yang rumahnya hangus terbakar.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang menegaskan bahwa Pemkab berkomitmen untuk selalu berada di sisi rakyat dalam situasi sulit. Kehadiran pemerintah bukan hanya dalam bentuk bantuan darurat, melainkan juga upaya pemulihan pascabencana yang berkelanjutan.

“Musibah ini adalah cobaan yang berat. Tapi kami memastikan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan rakyatnya. Proses pendataan terus dilakukan untuk memastikan setiap warga terdampak mendapat perhatian yang layak,” ungkapnya.

Pemkab Kupang melalui BPBD juga akan melakukan evaluasi terkait kesiapsiagaan bencana, khususnya kebakaran pemukiman. Sosialisasi pencegahan, penataan lingkungan, hingga kesiapan peralatan darurat akan diperkuat agar musibah serupa bisa diminimalisasi di masa mendatang.

Peristiwa kebakaran di Desa Manusak dan Bolok kembali mengingatkan bahwa solidaritas sosial adalah kekuatan besar yang dimiliki bangsa ini. Warga sekitar bersama aparat bahu-membahu membantu korban. Ada yang menyumbangkan makanan, pakaian, hingga tenaga untuk mendirikan tenda darurat.

Pemkab Kupang berharap semangat kebersamaan ini dapat terus terjaga, sekaligus menjadi inspirasi bahwa masyarakat yang kuat adalah mereka yang saling mendukung di saat suka maupun duka.

Bagi para korban, jalan pemulihan masih panjang. Kehilangan tempat tinggal dan harta benda membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya besar untuk kembali seperti semula. Namun, kehadiran pemerintah daerah dan dukungan berbagai pihak memberi harapan baru.

Kebakaran di Manusak dan Bolok menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal infrastruktur megah, tetapi juga kesiapan negara untuk hadir saat rakyat dalam keadaan paling rentan. Bantuan darurat yang diberikan memang hanya langkah awal, namun di situlah letak makna kemanusiaan: negara hadir ketika rakyat membutuhkan.

Dengan semangat itu, warga terdampak percaya bahwa dari puing-puing kebakaran, akan lahir kekuatan baru untuk menata kehidupan. Mereka mungkin kehilangan rumah, tapi tidak kehilangan harapan.