Selain itu, BGN juga mulai memberikan perhatian khusus kepada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini dinilai belum mendapatkan layanan secara optimal.
Agustin menyoroti masih lambatnya pembangunan fasilitas pendukung Program MBG di sejumlah daerah 3T. Padahal wilayah tersebut merupakan kawasan yang paling rentan mengalami masalah gizi buruk dan stunting.
Menurutnya, percepatan pembangunan infrastruktur layanan MBG di daerah 3T harus menjadi prioritas karena manfaat program akan lebih dirasakan oleh masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan gizi dan kesehatan.
“Ironis memang, pembangunan dapur MBG di daerah 3T belum secepat pembangunan di wilayah lainnya. Padahal daerah 3T merupakan skala prioritas karena masyarakat di sana rentan mengalami gizi buruk dan stunting,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan baru di BGN mampu mempercepat pemerataan layanan tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.
Lebih jauh, Prabowo Mania 08 memandang Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi jangka panjang untuk mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Program ini diyakini memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi.
