Prabowo Mania 08 Dukung Naniek S. Deyang Pimpin BGN, Fokus Benahi Tata Kelola Program MBG
FHC, Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan, termasuk kelompok relawan pendukung Presiden Prabowo Subianto. Prabowo Mania 08 (PM 08) menyatakan dukungan penuh terhadap penunjukan Naniek Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru dan menilai langkah tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan lebih efektif, transparan, dan tepat sasaran.
Dukungan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Prabowo Mania 08, Agustin Lumban Gaol, kepada awak media di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Menurutnya, keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjuk Naniek S. Deyang bukanlah langkah yang diambil secara spontan, melainkan berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program strategis nasional yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan saat ini.
“Pencopotan Kepala BGN tentu telah berdasarkan hasil evaluasi kinerja, bukan semata karena faktor kedekatan. Sehingga penunjukan Ibu Naniek S. Deyang sebagai Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto sudah sesuai hasil evaluasi,” ujar Agustin.
Menurut dia, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas tata kelola, ketepatan sasaran, keamanan pangan, serta dampaknya terhadap perbaikan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Sejak diluncurkan sebagai salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Program Makan Bergizi Gratis mendapat perhatian besar dari masyarakat. Program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah dan menekan angka stunting tersebut dinilai memiliki dampak strategis terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Namun dalam perjalanannya, program ini juga menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah persoalan sempat menjadi sorotan publik, mulai dari kasus keracunan makanan, kualitas dan porsi menu, isu jual beli titik atau kuota layanan, pengadaan perlengkapan yang dianggap tidak sesuai aturan, hingga dugaan lemahnya tata kelola di beberapa daerah.
Agustin menilai kritik terhadap Program MBG merupakan bagian penting dari pengawasan publik yang harus diterima secara terbuka. Meski demikian, ia mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap berbasis data dan fakta sehingga tidak menimbulkan persepsi yang menyesatkan di tengah masyarakat.
“Program MBG memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu memperbaiki kualitas gizi generasi penerus bangsa. Karena itu, evaluasi dan kritik perlu diarahkan untuk memperbaiki program, bukan justru membangun narasi yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan,” katanya.
Menurutnya, tantangan-tantangan tersebut justru menjadi alasan penting mengapa BGN membutuhkan kepemimpinan yang kuat, tegas, dan mampu melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Prabowo Mania 08 menilai Naniek S. Deyang memiliki kapasitas yang memadai untuk memimpin BGN. Selama menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, Naniek dikenal aktif melakukan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.
Agustin mengatakan, Naniek tidak hanya menerima laporan di atas meja, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk memastikan berbagai informasi yang diterima benar-benar sesuai kondisi nyata.
Dari berbagai hasil monitoring tersebut, ditemukan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan operasional tidak sesuai standar yang ditetapkan. Dalam beberapa kasus, BGN bahkan memberikan teguran keras hingga penghentian sementara operasional terhadap dapur yang dinilai tidak memenuhi ketentuan.
“Ketegasan seperti ini yang dibutuhkan. Program sebesar MBG tidak boleh dijalankan secara asal-asalan karena menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia,” ujar Agustin.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Naniek untuk melakukan pembenahan yang lebih komprehensif setelah dipercaya memimpin BGN.
Salah satu langkah yang mendapat apresiasi dari Prabowo Mania 08 adalah perubahan pendekatan dalam pelaksanaan Program MBG yang kini lebih menitikberatkan pada kualitas dibanding sekadar mengejar angka penerima manfaat.
Agustin menilai strategi tersebut merupakan langkah realistis untuk memastikan program berjalan sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Beberapa kebijakan yang mulai diterapkan antara lain penataan ulang penerima manfaat agar lebih tepat sasaran, moratorium pembangunan dapur baru, peningkatan standar operasional dapur yang telah berjalan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam penyelenggaraan program.
“Fokus pada kualitas layanan, tata kelola yang baik, dan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka penerima manfaat,” katanya.
Selain itu, BGN juga mulai memberikan perhatian khusus kepada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini dinilai belum mendapatkan layanan secara optimal.
Agustin menyoroti masih lambatnya pembangunan fasilitas pendukung Program MBG di sejumlah daerah 3T. Padahal wilayah tersebut merupakan kawasan yang paling rentan mengalami masalah gizi buruk dan stunting.
Menurutnya, percepatan pembangunan infrastruktur layanan MBG di daerah 3T harus menjadi prioritas karena manfaat program akan lebih dirasakan oleh masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan gizi dan kesehatan.
“Ironis memang, pembangunan dapur MBG di daerah 3T belum secepat pembangunan di wilayah lainnya. Padahal daerah 3T merupakan skala prioritas karena masyarakat di sana rentan mengalami gizi buruk dan stunting,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan baru di BGN mampu mempercepat pemerataan layanan tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.
Lebih jauh, Prabowo Mania 08 memandang Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi jangka panjang untuk mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Program ini diyakini memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi.
Menurut Agustin, keberhasilan Program MBG tidak hanya akan berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas ekonomi, dan penguatan karakter kebangsaan generasi muda.
“Mereka diharapkan menjadi pemimpin masa depan bangsa yang mampu membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa anak-anak yang merasakan manfaat program sejak dini akan tumbuh dengan kesadaran bahwa negara hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kondisi tersebut diyakini dapat memperkuat rasa nasionalisme, persatuan, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Karena itu, Prabowo Mania 08 mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar tetap berada pada jalur yang benar dan terbebas dari berbagai praktik penyimpangan.
Dengan kepemimpinan baru di bawah Naniek S. Deyang, harapan terhadap perbaikan tata kelola BGN kini semakin besar. Tantangan memang masih banyak, tetapi langkah pembenahan yang dilakukan saat ini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mewujudkan program gizi nasional yang profesional, akuntabel, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.
