Melalui tokoh Ndaina, penulis menggambarkan beratnya hidup sebagai seseorang yang dicap berbeda. Ia harus menghadapi penolakan dan prasangka dari masyarakat yang lebih memilih mempercayai ketakutan daripada melihat manusia secara utuh. Selain Ndaina, keluarga Nono juga menjadi gambaran kelompok yang menjadi korban stigma tersebut. Darah keluarga mereka dianggap kotor dan berbahaya hanya karena cap suwanggi yang diwariskan turun-temurun. Akibatnya, mereka mengalami pengucilan, diskriminasi, bahkan ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka.
Judul *Dara(h) Savana* memiliki makna simbolis yang mendalam. Kata “Dara” merujuk pada gadis savana, perempuan Sumba yang tumbuh di tengah kerasnya alam namun tetap tegar dan kuat. Sementara huruf “(h)” menghadirkan makna darah sebagai simbol kehidupan dan ikatan keluarga. Dalam novel ini, darah tidak lagi dimaknai sebagai pemersatu, melainkan sebagai sumber kecurigaan akibat stigma yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kelebihan novel ini terletak pada keberaniannya mengangkat tema yang jarang dibahas dalam karya sastra Indonesia, yaitu stigma suwanggi dalam masyarakat Sumba. Doni Kleden berhasil menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat adat dengan sangat hidup dan autentik. Bahasa yang digunakan puitis, emosional, namun tetap mudah dipahami sehingga mampu membawa pembaca masuk ke dalam suasana cerita dan merasakan penderitaan tokoh-tokohnya. Selain itu, novel ini juga mengandung kritik sosial yang tajam terhadap praktik diskriminasi yang lahir dari ketakutan dan prasangka.
