Rupiah Melemah ke Rp17.223, Bagaimana Jika Tembus Rp20.000 per Dolar AS?

FHC, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang memicu kekhawatiran publik. Pada Selasa (28/4/2026) pagi, rupiah tercatat turun 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.223 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.211.

Pelemahan ini tak hanya menjadi perhatian pelaku pasar, tetapi juga ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet bahkan mulai mengangkat skenario ekstrem: bagaimana jika rupiah menembus Rp20.000 per dolar AS?

Dampak Nyata Jika Rupiah Tembus Rp20.000

Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai skenario tersebut memang tidak diharapkan, tetapi tetap perlu diantisipasi.

“Jika level Rp20.000 tercapai, dampaknya akan langsung terasa ke berbagai sektor,” ujarnya.

Beberapa dampak utama yang diperkirakan terjadi antara lain:

1. Lonjakan inflasi (imported inflation)
Harga barang impor akan meningkat signifikan, termasuk bahan baku industri dan produk konsumsi seperti elektronik, gadget, hingga pangan tertentu.

2. Beban utang luar negeri membengkak
Pemerintah maupun swasta yang memiliki utang dalam dolar AS akan menghadapi kenaikan cicilan akibat pelemahan rupiah.

3. Capital outflow meningkat
Menurunnya kepercayaan investor terhadap rupiah berpotensi memicu arus modal keluar, yang justru memperparah tekanan terhadap nilai tukar.

Dampak berantai dari kondisi ini juga bisa dirasakan masyarakat secara langsung, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga biaya pendidikan dan transportasi.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Wijayanto menilai, pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari faktor global dan domestik.

Salah satu sorotan utama adalah komunikasi kebijakan yang dinilai kurang tepat dari pemerintah dalam beberapa waktu terakhir.

“Pernyataan terkait rencana memajaki Selat Malaka, penolakan terhadap tawaran pinjaman IMF, hingga komunikasi soal rating kredit menjadi sinyal yang kurang positif bagi pasar,” jelasnya.

Selain itu, kritik terbuka terhadap investor dan lembaga keuangan global juga dinilai berpotensi menurunkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Di luar faktor domestik, tekanan global seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi dunia juga turut memperburuk posisi rupiah.

Perlu Antisipasi Serius

Meski skenario rupiah menyentuh Rp20.000 masih bersifat hipotetis, para ekonom menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas.

Kebijakan yang konsisten, komunikasi yang terukur, serta penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci untuk meredam tekanan lebih lanjut terhadap mata uang nasional.

Jika tidak diantisipasi sejak dini, pelemahan rupiah bukan hanya menjadi isu pasar keuangan, tetapi bisa menjalar menjadi tekanan nyata bagi daya beli masyarakat.