Dalam konteks ini, sinergi BI dan Pemerintah menjadi kunci. BI berperan menjaga stabilitas makro melalui kebijakan moneter dan stabilisasi nilai tukar, sementara Pemerintah memegang peran strategis dalam memperkuat sisi pasokan. Upaya menjaga ketersediaan pangan melalui penguatan produksi domestik, distribusi antardaerah, serta intervensi pasar menjadi instrumen penting untuk meredam gejolak harga volatile food.

Program Ketahanan Pangan Nasional yang diperkuat di berbagai daerah melalui TPID menunjukkan hasil positif dalam menahan laju inflasi pangan secara tahunan, yang tercatat sebesar 6,21 persen (yoy). Meski relatif tinggi, angka ini mencerminkan tekanan yang masih bisa dikelola di tengah tantangan cuaca dan permintaan musiman. Namun, tanpa reformasi struktural di sektor pertanian—mulai dari irigasi, teknologi produksi, hingga rantai pasok—risiko inflasi pangan akan terus berulang.

Di sektor energi, tantangannya lebih bersifat jangka panjang. Inflasi administered prices secara tahunan tercatat sebesar 1,93 persen (yoy), relatif terkendali karena terbatasnya penyesuaian harga yang diatur Pemerintah. Namun, ruang kebijakan ini tidak selalu tersedia. Transisi energi, peningkatan efisiensi, dan penguatan energi terbarukan menjadi prasyarat untuk mengurangi kerentanan inflasi terhadap gejolak harga BBM global.