NTT, FHC – Dalam konfigurasi sosial kontemporer, perempuan semakin tampil sebagai agen yang mereproduksi social capital secara silent namun signifikan. Pernyataan Jane Natalia Suryanto baru-baru ini, bahwa ketika perempuan duduk bersama, mereka bukan hanya berbagi narasi personal, tetapi sedang memproduksi keberanian sosial dan rasa saling percaya, menunjukkan bahwa ruang pertemuan perempuan adalah locus pembentukan self efficacy, social bonding, dan collective agency yang tidak bisa direduksi pada percakapan domestik semata.
Fenomena ini dapat dibaca sebagai artikulasi dari teori solidaritas organik Émile Durkheim yang menyebut bahwa masyarakat modern bertumpu pada diferensiasi peran, bukan pada keseragaman. Perempuan hadir dalam konteks ini bukan lagi sekadar kategori gender biologis, melainkan subjek yang regeneratif dalam menciptakan social cohesion berbasis kesadaran, pengalaman, dan refleksi diri.
Narasi Jane menunjukkan bahwa “tawa dan diam” menjadi medium simbolik yang memproduksi makna sosial baru: kekuatan tidak harus performatif verbal, tetapi bisa terakumulasi melalui inter-subjectivity dan reciprocal understanding (pemahaman timbal balik atau saling pengertian.)
