Penelitian ini juga menyoroti fenomena sebelumnya yang dikenal sebagai “AI slop” atau “workslop”, istilah yang menggambarkan membanjirnya konten atau pekerjaan berkualitas rendah akibat penggunaan AI yang tidak terkontrol. Kondisi ini dinilai turut memperburuk beban kerja dan kualitas output.

Menariknya, studi ini menemukan adanya paradoks dalam penggunaan AI. Di satu sisi, teknologi ini mampu mengurangi stres ketika digunakan untuk menangani tugas-tugas rutin dan repetitif. Namun di sisi lain, tekanan mental justru meningkat ketika pekerja harus mengelola banyak alat AI sekaligus.

Pekerja yang menggunakan tiga atau lebih tools AI secara bersamaan cenderung mengalami lonjakan stres. Hal ini disebabkan oleh banjir informasi, perpindahan tugas yang cepat, serta kebutuhan untuk terus memverifikasi hasil kerja AI.

Banyak responden menggambarkan kondisi “brain fry” sebagai sensasi “kabut mental” atau kepala terasa penuh seperti membuka terlalu banyak tab dalam browser secara bersamaan.

Temuan ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan dan individu untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi AI. Alih-alih meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, penggunaan yang tidak terkontrol justru berpotensi menurunkan kinerja dan kesehatan mental pekerja.