Mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut diajak memahami bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk menghasilkan konten palsu yang terlihat sangat meyakinkan. Mereka juga dibekali keterampilan praktis dalam mengenali pola-pola penipuan digital yang semakin marak terjadi di media sosial maupun platform komunikasi daring.

Peserta kegiatan, William John Ratingu, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan teori, tetapi juga kemampuan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan tersebut menggambarkan kebutuhan nyata generasi muda saat ini. Ancaman digital tidak lagi hanya berupa virus komputer atau peretasan akun. Kejahatan siber kini hadir dalam bentuk yang lebih halus melalui manipulasi psikologis, penyebaran hoaks, dan pemanfaatan AI untuk menipu korban.

Di sisi lain, program Google AI for Education yang dibawa Arleen juga menunjukkan sisi positif perkembangan teknologi. Mahasiswa diajak melihat AI sebagai alat bantu yang dapat memperluas kemampuan manusia, bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti.