Bank NTT Bawa Teknologi H2H ke Undana, Pembayaran Kuliah Kini Real-Time dan Transparan

FHC, Upaya modernisasi tata kelola keuangan perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur memasuki babak baru. Universitas Nusa Cendana (Undana) dan PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) mulai menjajaki kerja sama strategis yang berfokus pada penguatan sistem perbankan digital, literasi keuangan mahasiswa, hingga pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Salah satu agenda utama dalam penjajakan tersebut adalah penerapan teknologi Host to Host (H2H) dan Virtual Account Custom API yang memungkinkan pembayaran kuliah dilakukan secara real-time, terintegrasi, dan transparan.

Pembahasan kerja sama itu berlangsung dalam pertemuan resmi antara jajaran Rektorat Undana dan pimpinan Bank NTT di Gedung Rektorat Undana, Kupang, Senin (8/6/2026). Delegasi Bank NTT dipimpin Direktur Kredit Aloysius Geong bersama Direktur Umum dan SDM Rahmat Saleh. Pertemuan tersebut turut mendapat perhatian dan dukungan dari Bupati Kupang Yosef Lede yang hadir sebagai salah satu pemegang saham Bank NTT.

Dalam pemaparannya, Bank NTT menawarkan sistem pembayaran digital yang menghubungkan langsung sistem administrasi kampus dengan sistem perbankan. Melalui skema Host to Host, setiap transaksi pembayaran yang dilakukan mahasiswa akan tercatat secara otomatis dan dapat dipantau secara langsung oleh pihak universitas maupun bank.

Teknologi ini dinilai mampu memangkas berbagai tahapan administrasi yang selama ini masih membutuhkan proses verifikasi manual. Selain mempercepat layanan, sistem tersebut juga meningkatkan akurasi data serta memperkuat transparansi pengelolaan keuangan kampus.

Bank NTT menyebutkan bahwa teknologi H2H bukanlah sistem baru bagi institusi keuangan daerah tersebut. Sejak tahun 2010, layanan serupa telah diterapkan pada sejumlah perguruan tinggi mitra di NTT, antara lain Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW), Universitas Citra Bangsa (UCB), dan Universitas Katolik St. Paulus Ruteng.

Melihat rekam jejak implementasi tersebut, pihak Undana menyambut positif tawaran kerja sama yang diajukan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik sekaligus Pelaksana Tugas Wakil Rektor IV Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., mengatakan universitas akan segera membentuk tim teknis untuk mengkaji lebih lanjut sinkronisasi sistem yang ditawarkan Bank NTT dengan infrastruktur digital yang telah dimiliki kampus.

Menurutnya, integrasi teknologi membutuhkan perencanaan yang matang agar proses implementasi berjalan efektif dan tidak mengganggu layanan akademik yang telah berlangsung.

Sementara itu, Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa kerja sama dengan Bank NTT tidak hanya dipandang sebagai hubungan antara institusi pendidikan dan lembaga keuangan semata. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut harus mampu memberikan manfaat yang selaras dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ia menjelaskan bahwa Undana memiliki sumber daya akademik yang besar dan dapat berkontribusi dalam berbagai program pembangunan daerah yang digagas Bank NTT.

“Undana memiliki sumber daya manusia yang besar untuk berkontribusi dalam pendampingan UMKM, pengembangan masyarakat, hingga penelitian terapan yang dapat dikolaborasikan dengan Bank NTT,” ujar Prof. Jefri Bale.

Selain aspek digitalisasi kampus, kerja sama tersebut juga membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan keuangan dan penguatan ekonomi lokal.

Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius Geong, menilai Undana merupakan mitra strategis karena memiliki jumlah mahasiswa yang sangat besar. Saat ini, populasi mahasiswa Undana diperkirakan mencapai lebih dari 30 ribu orang yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi.

Menurut Aloysius, jumlah tersebut menjadi modal penting untuk memperluas program inklusi keuangan di NTT. Generasi muda, khususnya mahasiswa, dinilai memiliki peran sentral dalam mendorong transformasi budaya keuangan masyarakat yang lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

“Kami berharap dapat bermitra dengan Undana dalam berbagai program literasi keuangan. Jumlah mahasiswa yang masif adalah modal dasar yang kuat untuk membangun budaya sadar investasi dan keuangan digital yang aman di NTT,” kata Aloysius.

Melalui kolaborasi ini, Bank NTT tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengguna layanan perbankan digital, tetapi juga berupaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pengelolaan keuangan, investasi yang sehat, hingga pemanfaatan teknologi finansial secara bijak.

Dukungan terhadap kerja sama tersebut juga datang dari Bupati Kupang Yosef Lede. Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi dan bank pembangunan daerah merupakan langkah strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi Nusa Tenggara Timur.

Menurut Yosef, Bank NTT sebagai lembaga keuangan milik masyarakat daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa dana yang dikelola dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, keterlibatan institusi akademik seperti Undana menjadi penting untuk menghadirkan inovasi, riset, serta pendampingan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Kolaborasi ini juga dipandang relevan dengan tantangan modernisasi birokrasi yang kini dihadapi berbagai perguruan tinggi negeri. Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai puluhan ribu orang, kebutuhan akan sistem administrasi yang cepat, efisien, dan akuntabel menjadi semakin mendesak.

Penerapan teknologi H2H diyakini dapat mengurangi potensi kesalahan administrasi, mempercepat pencatatan transaksi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara lebih akurat.

Di sisi lain, keterlibatan dosen dan peneliti Undana dalam program pendampingan UMKM yang didukung pembiayaan Bank NTT diharapkan mampu mendorong hilirisasi hasil riset kampus menjadi program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Jika kerja sama ini terealisasi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa dan civitas akademika, tetapi juga pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Dengan demikian, sinergi antara dunia pendidikan dan sektor perbankan berpotensi menjadi motor baru bagi percepatan transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi inklusif di Nusa Tenggara Timur.