Insentif tersebut difokuskan untuk mendorong kredit ke sektor-sektor prioritas, seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa, konstruksi, perumahan, serta UMKM. Kredit perbankan sepanjang 2025 tercatat tumbuh 9,69% (yoy) dan pada 2026 diprakirakan meningkat di kisaran 8–12%.

Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Bank Indonesia mempercepat perluasan pembayaran digital, termasuk persiapan implementasi QRIS Antarnegara Indonesia–Tiongkok dan Indonesia–Korea Selatan pada triwulan I 2026.

Pada triwulan IV 2025, volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,26 miliar transaksi, tumbuh 39,21% (yoy), dengan transaksi QRIS melonjak 139,99% (yoy). Infrastruktur sistem pembayaran seperti BI-FAST dan BI-RTGS juga tetap andal dan stabil.

Di tengah perlambatan ekonomi global yang diprakirakan tumbuh 3,2% pada 2026, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7–5,5%, dan meningkat menjadi 4,9–5,7% pada 2026.