Menguji 9 Cluster Pembangunan Lembata 2025–2030: Critical Success Factor Penentu Sukses Visi Nelayan–Tani–Ternak
Oleh: Mateus Mas Belalawe, S.Kom., M.T., (Praktisi Pembangunan)
FHC, Visi besar “Lembata Maju, Lestari, dan Berdaya Saing” yang diusung Bupati Petrus Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir merupakan arah pembangunan yang ambisius sekaligus realistis. Visi tersebut diterjemahkan melalui enam misi, delapan tema pembangunan, serta 20 program unggulan dengan identitas Nelayan–Tani–Ternak (NTT).
Namun, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak pernah diukur dari banyaknya program yang tertulis dalam dokumen perencanaan. Sejarah pembangunan daerah di Indonesia menunjukkan bahwa banyak RPJMD gagal bukan karena kekurangan ide, melainkan karena lemahnya eksekusi.
Di sinilah konsep Critical Success Factor (CSF) menjadi penting. CSF adalah faktor-faktor kunci yang wajib dipenuhi agar tujuan strategis benar-benar tercapai.
Meskipun RPJMD Lembata 2025–2029 tidak secara resmi membagi pembangunan dalam sembilan klaster, substansi dokumen tersebut dapat dipetakan ke dalam sembilan klaster prioritas yang memudahkan pengukuran keberhasilan.
