Pameran tersebut bukan sekadar ajang memamerkan hasil karya mahasiswa. Ia menjadi simbol transformasi cara pandang terhadap tenun ikat. Dari produk budaya yang selama ini identik dengan tradisi, tenun mulai ditempatkan sebagai sumber inovasi dan kekuatan ekonomi kreatif masa depan.
Puluhan karya yang dipamerkan menunjukkan bagaimana mahasiswa berhasil memadukan kekayaan tenun ikat, tenun buna, dan tenun sotis dari berbagai wilayah NTT ke dalam produk yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi masa kini. Kain tradisional tidak lagi hanya tampil sebagai busana adat, tetapi juga hadir dalam bentuk aksesori, produk fesyen modern, hingga karya desain yang memiliki nilai komersial tinggi.
Pendekatan ini penting karena keberlangsungan budaya tidak cukup hanya mengandalkan romantisme sejarah. Warisan budaya harus mampu menemukan relevansinya dalam kehidupan modern agar tetap hidup dan berkembang.
Dekan Fakultas Sains dan Teknik Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menegaskan bahwa pembelajaran tenun saat ini tidak bisa lagi dibatasi pada keterampilan menenun semata. Tenun perlu dilihat sebagai objek kajian multidisiplin yang mencakup ilmu pengetahuan, teknologi, bisnis, hingga pariwisata.
