Oleh: Alfonso Jano Molo

Malaka,FHC-Senja belum sepenuhnya jatuh ketika Pasar Harian Beiabuk di Betun mulai berdenyut. Lampu-lampu menyala seadanya, memantulkan cahaya kuning pucat ke meja-meja kayu yang lembap. Di tempat inilah, setiap sore, harapan dipertaruhkan—diam-diam, tanpa sorak, tanpa janji.

Penulis, Alfons 

Pasar ini memang menjual ikan, sayur, dan kebutuhan dapur. Namun sesungguhnya, yang paling banyak diperdagangkan adalah harapan. Harapan juragan ikan agar tangkapan hari ini tak kembali pulang sia-sia. Harapan para papalele, pedagang kecil keliling yang setia menjemput rezeki dari tangan ke tangan. Harapan para ibu rumah tangga yang menggantungkan asap dapur esok pagi dari lapak-lapak sederhana itu.

Tak ada bangunan megah di sini. Tak ada lantai keramik mengilap atau pendingin ruangan. Yang ada hanyalah ketekunan orang-orang kecil yang bertahan dari hari ke hari. Lapak berdiri seadanya, penerangan minim, penataan jauh dari rapi. Namun justru di ruang yang serba terbatas inilah ekonomi Malaka menunjukkan wajah aslinya—jujur, keras, dan terus bergerak.

Pasar Harian Beiabuk bukan sekadar tempat transaksi. Ia adalah panggung kehidupan.

Di antara tawar-menawar harga ikan, terselip cerita keluarga, kabar kampung, hingga keluhan tentang laut yang kian sulit ditebak. Sapaan terjadi tanpa jadwal, senyum dibagi tanpa alasan. Pasar ini menyatukan desa dan kota kecil dalam satu ritme: sederhana, akrab, dan penuh daya tahan.

Ikan-ikan yang terhampar di meja kayu tak selalu datang dari laut yang sama. Sebagian berasal dari nelayan lokal, sebagian lainnya menempuh perjalanan dari Atapupu, Kabupaten Belu. Alur ini membuktikan bahwa Pasar Beiabuk bukan pasar kecil yang berdiri sendiri. Ia adalah simpul penting jaringan pangan masyarakat perbatasan—penopang sunyi banyak keluarga.

Namun di balik denyut itu, ada luka lama yang terus diabaikan: penataan.

Hingga hari ini, Pasar Harian Beiabuk tumbuh tanpa arah yang jelas. Lapak semrawut, fasilitas terbatas, penerangan sekadarnya. Semua berjalan apa adanya, seolah keteraturan adalah kemewahan yang belum pantas dimiliki rakyat kecil.

Padahal, pasar rakyat adalah wajah paling jujur dari kehadiran negara. Ketika pasar tertata, bersih, dan aman, rakyat merasa dihargai. Tetapi ketika pasar dibiarkan bertahan sendiri, pesan yang diterima pun terang: berjuanglah tanpa berharap banyak.

Para juragan ikan dan papalele tidak meminta istana. Mereka tidak menuntut gedung bertingkat atau fasilitas modern ala kota besar. Mereka hanya menginginkan ruang yang tertata, terang, aman, dan manusiawi—tempat bekerja tanpa rasa waswas, tempat mencari nafkah dengan martabat.

Setiap sore, di bawah lampu senja, mereka tetap datang. Menyusun ikan di atas meja kayu, memanggil pembeli dengan suara yang mulai serak, dan menyimpan harapan bahwa esok hari akan sedikit lebih ramah.

Di Pasar Harian Beiabuk, kita melihat wajah sejati ekonomi Malaka: sederhana, keras, namun tak pernah kehabisan harapan.

Kini pertanyaannya bukan lagi seberapa penting pasar ini. Itu sudah terjawab setiap senja. Pertanyaannya tinggal satu: kapan perhatian nyata benar-benar hadir, menyusul kerja keras rakyat yang selama ini bertahan dalam cahaya lampu yang redup itu?***