“Kalau perjuangan sosial, kami dukung. Tapi kalau sudah menghasut dan membuat rakyat saling curiga, itu dosa besar terhadap daerah ini,” tegas seorang tokoh pemuda KMCKK.
Aksi pada Selasa pagi itu akhirnya dibubarkan secara tertib setelah aparat kepolisian menenangkan kedua pihak. Namun, aroma ketegangan masih terasa. Masyarakat menanti langkah tegas pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menangani pihak-pihak yang memprovokasi situasi demi kepentingan pribadi.
Dalam konteks ini, nama Hendrikus Djawa kembali berada di bawah sorotan tajam publik Kupang. Di mata sebagian warga, tindakannya dianggap “membuka luka lama” soal Dana Seroja, sementara bagi pendukungnya, ia adalah “pejuang keadilan”. Waktu akan membuktikan, apakah Hendrikus benar-benar berjuang untuk rakyat atau justru menambah daftar panjang dosa politik di Kabupaten Kupang.
Hingga masyarakat penyintas dana seroja satu persatu bubarkan diri di jalan depan Kantor Bupati, Hendrik Djawa tak terlihat mendampingi mereka. Terutama disaat aksi demo yang berlangsung panas, Hendrikus Djawa tak terlihat mendampingi kelompoknya.
