Namun, analis mengingatkan adanya potensi perlambatan kenaikan harga. Tekanan aksi ambil untung mulai terlihat, terutama dari investor Asia, ketika harga mendekati level psikologis US$4.850 per ons.

Bagi pasar domestik, penguatan harga emas global biasanya berdampak langsung pada harga emas ritel seperti Antam.

Kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor lokal, tetapi juga sinyal meningkatnya ketidakpastian global—yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor energi.

Di tengah kombinasi risiko geopolitik, inflasi energi, dan arah kebijakan suku bunga global, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama.

Selama ketegangan di Timur Tengah—khususnya di Selat Hormuz—belum mereda, tren penguatan emas diperkirakan masih akan bertahan, meski dibayangi volatilitas jangka pendek.