Kupang, FHNC – Tanggal 20 Agustus 2025 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Amfoang, Kabupaten Kupang. Di tengah semarak penutupan Expo Pembangunan dan UMKM yang sekaligus menandai enam bulan kepemimpinan Bupati Kupang Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Titu Eki, sebuah langkah penting dicatat: penandatanganan dan penyerahan pelepasan hak (PH) atas tanah yang akan dijadikan calon ibu kota Daerah Otonomi Baru (DOB) Amfoang.

Acara yang berlangsung di Pampuan itu dihadiri ribuan warga, tokoh masyarakat, panitia DOB Amfoang, serta jajaran pemerintah daerah. Bagi masyarakat Amfoang, penyerahan tanah tersebut bukan sekadar acara seremonial, tetapi simbol harapan dan perjuangan panjang agar daerah mereka kelak berdiri sebagai kabupaten sendiri.

Dalam sambutannya, Bupati Yosef Lede menegaskan bahwa perjuangan DOB Amfoang bukan hal baru, dan dirinya adalah bagian dari sejarah panjang tersebut. Ia mengingatkan publik bahwa saat menjabat Ketua DPRD Kabupaten Kupang, dialah orang pertama yang berani mengusulkan lahirnya DOB Amfoang.

“Enam bulan setelah saya dilantik sebagai Ketua DPRD, saya mengambil langkah berani menyerahkan SK pengusulan DOB Amfoang ke pemerintah pusat. Itu adalah keputusan sejarah yang sampai hari ini terus saya perjuangkan,” ungkap Yosef Lede dengan nada tegas.

Ia menambahkan, penyerahan tanah calon ibu kota DOB Amfoang pada momentum enam bulan pemerintahannya bersama Wakil Bupati adalah penegasan bahwa perjuangan tersebut masih hidup dan terus berjalan. “Hari ini kita meluruskan sejarah. Dan saya bersyukur bisa kembali mencatat sejarah baru bersama masyarakat Amfoang,” ujarnya.

Bupati Yosef Lede menyadari bahwa hingga kini pemerintah pusat masih memberlakukan moratorium pemekaran daerah. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat masyarakat Amfoang untuk tetap mempersiapkan diri.

“Ada banyak harapan yang disampaikan oleh seluruh masyarakat Pampuan. Walaupun kami tahu bahwa sementara ini moratorium masih berlaku, tetapi kemungkinan itu tetap ada. Jika suatu saat moratorium dicabut, saya yakin dan percaya Amfoang akan menjadi daerah otonomi baru,” tegasnya.

Pernyataan itu disambut dengan tepuk tangan meriah dari masyarakat yang hadir. Wajah-wajah penuh harap tergambar jelas: mereka ingin pembangunan lebih dekat, pelayanan publik lebih cepat, dan kesempatan ekonomi lebih terbuka.

Ketua Panitia DOB Amfoang, Yunus Naisunis dalam kesempatan itu menyerahkan dokumen pelepasan hak tanah kepada Bupati Kupang.

“Kami masyarakat Amfoang menyerahkan tanah ini sebagai bukti keseriusan dan kesiapan untuk menjadi daerah otonomi baru. Kami percaya, dengan dukungan pemerintah kabupaten, langkah ini akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Momentum enam bulan kepemimpinan Yosef Lede juga menjadi refleksi atas visi “Kupang Emas” yang terus ia gaungkan. Baginya, perjuangan DOB Amfoang adalah bagian dari ikhtiar mewujudkan keadilan pembangunan.

“Program Kupang Emas bukan hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana rakyat merasakan keadilan. DOB Amfoang adalah salah satu instrumen keadilan itu. Karena tanah tanpa akses tak bermakna, dan akses tanpa kepastian tidak akan kuat,” jelas Yosef.

Ia juga menekankan bahwa perjuangan DOB Amfoang adalah perjuangan kebersamaan. “Ini bukan perjuangan saya pribadi, tetapi perjuangan seluruh rakyat Amfoang. Dan saya percaya, ketika kita bergandengan tangan dengan kasih, Kupang pasti bangkit, Amfoang pasti berdiri,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Dalam acara tersebut, Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada panitia DOB, tokoh adat, tokoh gereja, serta seluruh masyarakat yang terus setia mendukung perjuangan panjang ini. Ia berharap agar semua elemen masyarakat tetap menjaga persatuan dan tidak terpecah oleh kepentingan sesaat.

“Perjuangan ini belum selesai. Tetapi hari ini kita menegaskan kembali, bahwa sejarah sedang kita tulis bersama. Jangan pernah menyerah, sebab doa dan usaha kita akan menentukan masa depan Amfoang,” pungkasnya.

Penyerahan PH tanah calon ibu kota DOB Amfoang di Pampuan menjadi babak baru dalam perjuangan panjang masyarakat Amfoang. Enam bulan kepemimpinan Yosef Lede tidak hanya diwarnai dengan program pembangunan, tetapi juga langkah konkret memperjuangkan aspirasi rakyatnya.

Harapan itu kini tergantung pada keputusan pemerintah pusat. Namun yang pasti, semangat rakyat Amfoang tak pernah padam. Sejarah sudah ditorehkan, harapan sudah dinyalakan, dan keyakinan terus dijaga: suatu saat, Amfoang akan berdiri sebagai kabupaten baru yang membawa masa depan lebih baik bagi generasi mendatang.