Pertama, mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur pedesaan sebagai fondasi aktivitas ekonomi. Kedua, mengembangkan sistem agribisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ketiga, memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Keempat, meningkatkan literasi digital masyarakat agar mampu bersaing di era ekonomi digital. Kelima, mengubah pola pikir generasi muda agar tidak hanya berorientasi menjadi pegawai, tetapi juga pelaku usaha berbasis potensi lokal.
Menurut Subhan, sektor pertanian dan peternakan di NTT masih menyimpan peluang besar yang belum banyak digarap oleh generasi muda terdidik.
“Mahasiswa harus melihat sektor agraria sebagai peluang masa depan. Di situlah ruang inovasi yang sangat luas untuk menciptakan nilai tambah ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Ernes D. Hamel menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT saat ini tengah mengembangkan berbagai strategi untuk memperkuat ekonomi daerah di tengah keterbatasan fiskal.
