Namun, media sosial sebenarnya juga dapat memberikan dampak positif apabila digunakan secara bijak. Banyak kreator digital yang memanfaatkan platform media sosial untuk membuat konten edukatif, seperti tutorial memasak, pembelajaran, keterampilan, maupun informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Konten semacam ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah wawasan dan mendorong generasi muda menjadi lebih kreatif dan produktif.
Lebih jauh lagi, fenomena ini berpotensi menurunkan kualitas budaya literasi dan berpikir kritis di kalangan generasi muda. Konten yang beredar lebih banyak bersifat hiburan instan dibandingkan edukasi yang mendalam. Akibatnya, kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memahami informasi secara komprehensif menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam perspektif teori displacement, waktu yang digunakan untuk mengonsumsi konten digital yang tidak produktif akan menggantikan aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti membaca, menulis, dan berdiskusi. Pergeseran ini berdampak pada menurunnya kebiasaan berpikir mendalam, yang merupakan fondasi utama dalam membangun kemampuan intelektual. Aktivitas menggulir layar tanpa tujuan yang jelas menjadi kebiasaan yang secara perlahan melemahkan daya nalar.
