Generasi Muda di Persimpangan: Mimpi Besar atau Terjebak Minuman Keras?
Oleh: Alfred Umbu Bili (Mahasiswa Universitas Katolik Weetebula
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program studi Pendidikan
Bahasa Indonesia)
FHC, Masa remaja seharusnya menjadi masa yang paling indah dalam perjalanan hidup seseorang. Pada usia ini, anak muda mulai membangun mimpi, menentukan tujuan hidup, serta mengembangkan potensi yang dimiliki. Remaja adalah harapan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Namun, di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, muncul persoalan yang mengancam masa depan generasi muda, yaitu maraknya konsumsi minuman keras di kalangan remaja.
Fenomena ini bukan lagi hal yang asing. Di berbagai daerah, kita sering melihat anak-anak muda yang menghabiskan waktu dengan berkumpul dan mengonsumsi minuman keras. Ironisnya, banyak dari mereka melakukannya hanya karena ingin diterima dalam kelompok pergaulan atau dianggap lebih dewasa dan berani. Padahal, keberanian sejati bukanlah tentang seberapa banyak seseorang mampu mengonsumsi alkohol, melainkan tentang kemampuan mengendalikan diri dan mengambil keputusan yang benar.
Menurut ahli perkembangan, Elizabeth B. Hurlock, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, remaja cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan teman sebaya. Karena itu, jika lingkungan yang mereka temui dipenuhi kebiasaan negatif, maka risiko mereka terjerumus ke dalam perilaku yang merugikan juga semakin besar.
Dampak minuman keras terhadap remaja tidak dapat dianggap remeh. World Health Organization menjelaskan bahwa konsumsi alkohol berlebihan dapat merusak kesehatan fisik dan mental seseorang. Alkohol dapat menurunkan kemampuan berpikir, mengganggu konsentrasi, memicu emosi yang tidak stabil, hingga meningkatkan risiko tindakan berbahaya. Tidak sedikit kasus perkelahian, kecelakaan, tindak kekerasan, bahkan kematian yang berawal dari pengaruh minuman keras.
Yang lebih memprihatinkan, minuman keras sering kali merampas masa depan anak muda secara perlahan. Banyak remaja yang sebenarnya memiliki bakat, kecerdasan, dan cita-cita tinggi, tetapi akhirnya kehilangan arah karena terjebak dalam kebiasaan tersebut. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan diri justru dihabiskan untuk aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi masa depan mereka.
Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi semua pihak. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pengawasan, pendidikan karakter, serta penyediaan ruang-ruang kreatif bagi generasi muda perlu diperkuat agar mereka memiliki wadah untuk menyalurkan energi dan potensinya ke arah yang positif. Namun, pada akhirnya keputusan terbesar tetap berada di tangan para remaja itu sendiri.
Remaja harus memahami bahwa menjadi keren bukan berarti mengikuti semua tren yang ada. Menjadi keren adalah ketika seseorang mampu menjaga dirinya dari pengaruh buruk, menghormati orang tua, memiliki tujuan hidup yang jelas, dan berjuang untuk meraih cita-cita. Masa muda adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Karena itu, jangan biarkan minuman keras mencuri masa depan yang telah dipersiapkan dengan penuh harapan.
Generasi muda adalah aset bangsa. Jika hari ini mereka memilih untuk menjauhi minuman keras dan fokus pada pengembangan diri, maka esok mereka akan menjadi pemimpin, penggerak, dan kebanggaan bagi keluarga serta masyarakat. Pertanyaannya sekarang, apakah generasi muda akan memilih mengejar mimpi mereka, atau justru membiarkan minuman keras merenggut masa depan yang seharusnya mereka raih?
