Ditegaskan, Pemda Belu jangan hanya melakukan pencitraan di media. Pekan lalu media sosial ramai memberitakan adanya pengawasan di tingkat agen, namun hingga saat ini harga justru terus melambung di tingkat pengecer.
“Kelangkaan minyak tanah di atambua kota perbatasan sudah hampir 1 bulan, masyarakat saat ini menjerit karena ditingkat pengecer 5 liter harganya Rp. 50. 000-Rp.60.000.” Ungkapnya.
Alves menegaskan lagi, bahwa apabila ditemukan adanya praktik penimbunan minyak tanah, pihaknya meminta agar agen yang terlibat segera ditindak tegas karena telah merugikan dan menyusahkan masyarakat Belu.
“Saat ini, di pasar baru atambua, harga eceran minyak tanah mencapai Rp60.000 untuk 5 liter. Artinya, harga per liter minyak tanah telah menyentuh Rp12.000,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan melonjaknya harga minyak tanah yang semakin membebani masyarakat.***
