Industri Pengolahan Tetap Ekspansif, PMI-BI Diproyeksikan Menguat pada Triwulan III 2026

FHC, Kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan nasional pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika perekonomian global. Aktivitas sektor manufaktur tercatat masih berada pada fase ekspansi, tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang mencapai 51,43 persen atau berada di atas ambang batas 50 persen.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri pengolahan masih terus bertumbuh dan menjadi salah satu penopang penting perekonomian nasional. Kinerja positif itu juga mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih terjaga, sementara pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek bisnis pada paruh kedua tahun ini.

Berdasarkan hasil survei PMI-BI, mayoritas komponen pembentuk indeks berada pada fase ekspansi. Komponen Volume Produksi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan aktivitas manufaktur, seiring meningkatnya kapasitas produksi sejumlah industri untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Selain itu, komponen Volume Persediaan Barang Jadi juga tercatat berada pada zona ekspansi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku industri masih menjaga tingkat persediaan guna mengantisipasi peningkatan permintaan pada periode mendatang. Sementara itu, Volume Total Pesanan yang juga berada pada fase ekspansi mencerminkan masih kuatnya aktivitas permintaan terhadap produk-produk manufaktur.

Dari sisi subsektor, sebagian besar Sublapangan Usaha (Sub-LU) industri pengolahan juga menunjukkan perkembangan positif. Industri Mesin dan Perlengkapan menjadi subsektor dengan indeks tertinggi pada triwulan II 2026. Kinerja tersebut mengindikasikan meningkatnya aktivitas investasi dan kebutuhan peralatan produksi di berbagai sektor ekonomi.

Di posisi berikutnya terdapat Industri Makanan dan Minuman yang tetap menjadi salah satu tulang punggung manufaktur nasional. Stabilnya permintaan masyarakat terhadap produk konsumsi menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan subsektor ini.

Selanjutnya, Industri Logam Dasar dan Industri Barang Galian Bukan Logam juga mencatatkan ekspansi yang cukup kuat. Kinerja kedua subsektor tersebut didukung oleh meningkatnya aktivitas pembangunan dan kebutuhan bahan baku untuk berbagai proyek konstruksi maupun industri hilir.

Pengamat ekonomi menilai capaian PMI-BI yang tetap berada di atas level 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik di tengah ketidakpastian global. Stabilitas konsumsi domestik, pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya aktivitas investasi menjadi faktor yang mendukung keberlanjutan ekspansi industri pengolahan.

Optimisme tersebut diperkirakan berlanjut pada triwulan III 2026. Bank Indonesia memprakirakan PMI-BI akan meningkat menjadi 52,32 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan sebelumnya. Kenaikan indeks tersebut menunjukkan adanya ekspektasi pertumbuhan aktivitas manufaktur yang lebih kuat pada periode Juli hingga September 2026.

Peningkatan kinerja industri pengolahan pada triwulan III diprakirakan masih ditopang oleh komponen Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan. Ketiga komponen tersebut diperkirakan terus mengalami ekspansi seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan pasar.

Kondisi ini mencerminkan keyakinan pelaku usaha bahwa permintaan terhadap produk manufaktur akan tetap tumbuh dalam beberapa bulan ke depan. Dengan meningkatnya pesanan, perusahaan-perusahaan industri diperkirakan akan terus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Dari sisi subsektor, mayoritas Sub-LU industri pengolahan juga diproyeksikan tetap berada pada zona ekspansi. Industri Mesin dan Perlengkapan diperkirakan kembali menjadi subsektor dengan kinerja tertinggi pada triwulan III 2026.

Kinerja subsektor ini dinilai sejalan dengan meningkatnya kebutuhan mesin dan peralatan produksi untuk mendukung aktivitas industri dan investasi yang terus berkembang. Permintaan terhadap mesin industri juga menjadi indikator bahwa pelaku usaha masih melakukan ekspansi usaha dan peningkatan kapasitas produksi.

Selain itu, Industri Pengolahan Tembakau diprakirakan mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat. Subsektor ini diperkirakan memperoleh dorongan dari meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Industri Logam Dasar juga diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang utama ekspansi sektor manufaktur. Kinerja subsektor ini berpotensi didukung oleh kebutuhan bahan baku industri dan proyek pembangunan yang masih berjalan di berbagai daerah.

Sementara itu, Industri Alat Angkutan diperkirakan mengalami peningkatan aktivitas pada triwulan III 2026. Perkembangan tersebut mencerminkan masih terjaganya permintaan terhadap produk kendaraan dan sarana transportasi, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun sektor usaha.

Prospek positif sektor industri pengolahan pada triwulan III 2026 menjadi sinyal penting bagi perekonomian nasional. Sebagai salah satu kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), keberlanjutan ekspansi sektor manufaktur diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional.

Dengan PMI-BI yang diproyeksikan meningkat dan mayoritas subsektor berada dalam fase ekspansi, sektor industri pengolahan diperkirakan akan tetap menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun 2026.

Hasil lengkap survei dapat dilihat dalam Prompt Manufacturing Index di website Bank Indonesia.