Peningkatan harga terutama terjadi pada komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara. Faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, serta avtur yang mengikuti tren kenaikan harga energi global.

Secara tahunan, inflasi kelompok *administered prices* mencapai 2,07 persen, meningkat dibandingkan 1,53 persen pada April 2026.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekonomi nasional masih memiliki sensitivitas terhadap fluktuasi harga energi dunia. Namun demikian, dampaknya relatif dapat dikelola karena pemerintah tetap mempertahankan berbagai kebijakan perlindungan sosial dan subsidi pada sektor-sektor strategis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Prospek Inflasi Tetap Positif

Ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi Indonesia akan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 maupun 2027. Optimisme tersebut didasarkan pada kuatnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, perbaikan sistem distribusi pangan, serta semakin kuatnya ketahanan ekonomi domestik.