Dalam konteks energi, kebangkitan berarti membangun sistem yang lebih adil, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan.
Di NTT, ini bukan konsep abstrak. Energi menentukan apakah anak-anak bisa belajar di malam hari, apakah puskesmas dapat beroperasi tanpa gangguan, apakah nelayan dan petani bisa meningkatkan nilai ekonomi mereka, dan apakah usaha kecil memiliki ruang untuk tumbuh.
Dengan kata lain, energi adalah soal martabat.
Transisi sebagai Agenda Keadilan
Karena itu, transisi energi tidak boleh dipahami semata sebagai proyek infrastruktur. Ia adalah agenda keadilan sosial.
Terlalu lama keterbatasan akses energi di wilayah pinggiran dianggap sebagai hal biasa. Padahal, seperti yang diajarkan Jumat Agung, penderitaan bukanlah takdir ia adalah konsekuensi dari pilihan.
Dan seperti yang ditegaskan Paskah, selalu ada kemungkinan untuk memilih jalan yang berbeda.
Tentu, jalan ini tidak bebas dari tantangan. Tata kelola harus diperkuat, investasi harus transparan, kapasitas sumber daya manusia harus ditingkatkan, dan keberlanjutan lingkungan harus dijaga.
