Bupati Kupang Yosef Lede memperingatkan petani agar tidak hanya menggelar seremoni tanam tanpa kelanjutan. Dalam Gerakan Tanam Musim II di Penfui Timur, ia menegaskan bantuan bisa dicabut jika lahan dibiarkan kosong.
FaktahukumNTT.com, Kupang – Dengan suara lantang dan penuh ketegasan, Bupati Kupang Yosef Lede menyampaikan peringatan keras kepada para petani dan kelompok tani dalam kegiatan Gerakan Tanam Musim Tanam II yang berlangsung di Desa Penfui Timur, Selasa (17/6) pagi.
Dalam acara yang juga dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Pertanian bidang Kebijakan Pertanian, Dr. Ir. Sam Herodian, Bupati Lede menyampaikan bahwa program bantuan pertanian seperti benih jagung, padi, dan mesin pompa air tidak boleh disia-siakan.
“Jangan hanya seremoni tanam lalu tidak ditindaklanjuti. Kalau bulan depan saya lewat sini dan tidak ada tanaman, saya akan tarik bantuannya,” tegas Yosef di hadapan para petani.
Ia menambahkan bahwa banyak petani selama ini hanya aktif ketika ada bantuan atau kunjungan pejabat, namun tidak menindaklanjuti dengan pengolahan lahan secara konsisten.
“Saya tidak peduli demokrasi kalau itu hanya jadi ajang pamer. Bantuan bukan untuk diposting di media sosial, tapi untuk menumbuhkan ekonomi rakyat,” lanjutnya.
Kegiatan tanam bersama ini menandai awal musim tanam kedua tahun ini di Kabupaten Kupang, dengan target swasembada pangan melalui perluasan lahan produksi padi dan jagung. Dalam acara tersebut, benih padi, jagung, dan mesin pompa air dibagikan langsung kepada kelompok tani.
Yosef juga menjelaskan bahwa Kabupaten Kupang mendapatkan alokasi khusus APBN sebanyak 24 program pertanian, sebuah pencapaian yang tak dimiliki daerah lain di Indonesia saat ini. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung irigasi, alat pertanian, serta penguatan kelembagaan kelompok tani.
“Kupang satu-satunya daerah yang dapat 24 paket APBN. Ini bukan hadiah, tapi kepercayaan. Kalau gagal, kita yang rugi,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Sam Herodian dari Kementerian Pertanian menyampaikan apresiasi atas semangat dan keterlibatan langsung kepala daerah dalam pembangunan sektor pertanian.
Ia menekankan bahwa kehadiran pemerintah pusat akan terus memperkuat program-program lokal, asalkan eksekusinya benar-benar dirasakan masyarakat.
Peringatan dari Bupati Kupang bukan sekadar gertakan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak ingin gerakan pertanian hanya jadi seremoni tanpa hasil. Dengan semangat kerja nyata, Kupang perlahan tapi pasti menuju daerah swasembada pangan yang mandiri dan tangguh.
