Oleh: Redaksi FaktahukumNTT.com
Opini FHNC – Koperasi Desa Merah Putih: Desa Bangkit, Negara Kuat!. Ketika Indonesia merdeka, Bung Hatta pernah menegaskan bahwa kemerdekaan hanyalah syarat, bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan sosial. Lebih dari tujuh dekade setelah Proklamasi, pertanyaan besar itu kembali menggema: sudahkah ekonomi Indonesia benar-benar berpihak pada rakyat, terutama di desa?
Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih hadir, bukan hanya sebagai badan usaha, tetapi sebagai alat perjuangan kolektif rakyat desa. Sebuah model baru ekonomi kerakyatan yang mencoba menjawab kegagalan sistem top-down selama ini—di mana desa hanya jadi penonton, bukan pemain utama dalam pembangunan nasional.
Program ini bukan sekadar rebranding koperasi klasik. Ini adalah rekonstruksi ekonomi dari bawah, berlandaskan filosofi gotong royong dan nilai-nilai kebudayaan lokal yang telah lama terkubur di bawah reruntuhan pembangunan kapitalistik.
Koperasi sebagai Revolusi Senyap
Ekonomi Indonesia selama ini terlalu terpaku pada pertumbuhan makro. Pertumbuhan yang membanggakan angka, tapi lupa pada makna. Sementara kota tumbuh vertikal, desa-desa justru stagnan bahkan mundur. Ketimpangan struktural semakin menganga.
Koperasi Desa Merah Putih adalah revolusi senyap melawan ketimpangan itu. Dengan lima program strategis—Lumbung Pangan Rakyat, Rumah Produksi Bersama, TAKURMA, Sekolah Koperasi Rakyat, dan digitalisasi koperasi—model ini mengembalikan martabat ekonomi ke tangan rakyat.
Alih-alih mengejar investasi asing atau berharap belas kasih APBN, koperasi ini membangun kekuatan dari solidaritas lokal. Petani tak lagi jadi korban tengkulak. UMKM tak lagi terpinggirkan oleh brand raksasa. Desa menjadi pusat produksi, bukan sekadar pasar.
Gotong Royong adalah Teknologi Tertua Kita
Banyak yang menganggap bahwa untuk membangun desa, kita butuh teknologi tinggi dan investor besar. Padahal, yang kita butuhkan terlebih dahulu adalah kesadaran kolektif. Gotong royong adalah “teknologi sosial” paling canggih yang kita miliki, tapi sering diremehkan.
Koperasi Merah Putih menghidupkan kembali etos itu: bekerja bersama, untung bersama, sejahtera bersama. Ia bukan mimpi, ia sedang dibangun secara sistematis oleh orang-orang yang percaya bahwa kekuatan ekonomi bangsa hanya bisa dimulai dari desa.
Dan jika desa bangkit, negara pasti kuat. Karena 75 persen wilayah Indonesia adalah desa, dan di situlah fondasi bangsa ini berdiri. Membangun dari desa bukan sekadar slogan politik—itu adalah strategi bertahan hidup sebagai bangsa yang berdaulat.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sinyal positif dengan menjadikan Koperasi Desa Merah Putih sebagai proyek strategis nasional. Tapi keberlanjutan dan keberhasilannya bukan tergantung pada elite, melainkan pada sejauh mana masyarakat sendiri mengambil alih kendali.
Koperasi ini hanya akan berhasil jika menjadi gerakan rakyat, bukan sekadar program pemerintah. Ia harus hidup di sawah, pasar, rumah produksi, dan ruang digital desa-desa Nusantara. Hanya dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa Indonesia tidak hanya besar di peta, tetapi kuat dari akar.
Desa bangkit, negara kuat—bukan sekadar harapan, melainkan keniscayaan jika koperasi kembali ke panggung utama.
