Hasil dari pendekatan tersebut mulai terlihat nyata. Saat ini, sekitar 300 warga telah merasakan dampak langsung dari program pemberdayaan yang dilakukan.
Desa Wisata Adat Osing Kemiren kini memiliki 50 unit homestay dengan total 92 kamar yang dikelola masyarakat. Kehadiran homestay tersebut tidak hanya memperluas kapasitas akomodasi wisatawan, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga di desa.
Selain itu, terdapat sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kopi, dan kerajinan tangan berbasis budaya Osing. Produk-produk tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan 40 orang juga berperan aktif dalam pengelolaan desa wisata. Mereka bertanggung jawab menjaga kualitas layanan wisata, mengembangkan atraksi budaya, sekaligus memastikan tradisi tetap menjadi ruh utama dalam pengembangan ekonomi desa.
Data menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Meski angka tersebut tampak sederhana, peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa ekonomi berbasis budaya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pedesaan.
