Menjaga Budaya Osing, Menggerakkan Kesejahteraan: Transformasi Desa Sejahtera Astra Kemiren dari Tradisi Menuju Ekonomi Berkelanjutan
FHC, BANYUWANGI – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis identitas budaya di banyak daerah, Desa Kemiren di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, justru menunjukkan arah yang berbeda. Desa yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi, ini berhasil membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset sosial dan ekonomi yang mampu menggerakkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Pagi hari di Kemiren dimulai dengan suara lesung yang ditabuh secara ritmis oleh warga. Bunyi kayu yang saling beradu itu bukan sekadar pertunjukan budaya untuk wisatawan, melainkan simbol kehidupan masyarakat yang masih menjaga erat akar tradisinya. Di antara rumah-rumah berarsitektur khas Osing, budaya tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Keunikan inilah yang kemudian menjadikan Desa Kemiren sebagai salah satu model pengembangan desa berbasis budaya yang mendapat perhatian nasional hingga internasional. Melalui program Desa Sejahtera Astra yang dijalankan oleh PT Astra International Tbk sejak 2024, potensi budaya Osing tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diintegrasikan dengan pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Kemiren menjaga berbagai tradisi adat yang menjadi identitas budaya Osing. Upacara adat Barong Ider Bumi yang digelar setiap tahun sebagai simbol penolak bala, ritual Tumpeng Sewu yang merepresentasikan rasa syukur masyarakat, Tari Gandrung sebagai ikon seni Banyuwangi, hingga kuliner dan musik tradisional Osing tetap diwariskan lintas generasi.
Dalam perspektif pembangunan desa modern, tradisi-tradisi tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar warisan budaya. Tradisi menjadi modal sosial yang memperkuat kohesi masyarakat sekaligus menciptakan daya tarik wisata yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.
Model pembangunan seperti ini sejalan dengan konsep pembangunan berbasis komunitas (community-based development), di mana masyarakat menjadi aktor utama dalam mengelola sumber daya lokal yang dimiliki.
“Desa Sejahtera Astra Kemiren menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat dapat berjalan beriringan. Melalui penguatan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, warisan budaya Osing tidak hanya tetap lestari, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat,” ujar Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto.
Hasil dari pendekatan tersebut mulai terlihat nyata. Saat ini, sekitar 300 warga telah merasakan dampak langsung dari program pemberdayaan yang dilakukan.
Desa Wisata Adat Osing Kemiren kini memiliki 50 unit homestay dengan total 92 kamar yang dikelola masyarakat. Kehadiran homestay tersebut tidak hanya memperluas kapasitas akomodasi wisatawan, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga di desa.
Selain itu, terdapat sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kopi, dan kerajinan tangan berbasis budaya Osing. Produk-produk tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan 40 orang juga berperan aktif dalam pengelolaan desa wisata. Mereka bertanggung jawab menjaga kualitas layanan wisata, mengembangkan atraksi budaya, sekaligus memastikan tradisi tetap menjadi ruh utama dalam pengembangan ekonomi desa.
Data menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan yang cukup signifikan. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Meski angka tersebut tampak sederhana, peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa ekonomi berbasis budaya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pedesaan.
Pembangunan yang dilakukan di Kemiren tidak hanya berorientasi pada sektor wisata. Astra menerapkan pendekatan pembangunan yang lebih komprehensif melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.
Di bidang kesehatan, program yang dijalankan mencakup penguatan layanan Posyandu, penyediaan fasilitas kesehatan dasar, dukungan kesehatan ibu dan anak, serta edukasi kesehatan bagi masyarakat.
Pendekatan ini penting karena kualitas kesehatan masyarakat menjadi fondasi utama pembangunan desa yang berkelanjutan. Desa wisata yang berkembang membutuhkan masyarakat yang sehat agar mampu berpartisipasi aktif dalam aktivitas ekonomi dan sosial.
Pada sektor pendidikan, perhatian diberikan kepada pendidikan usia dini melalui penguatan fasilitas PAUD, penyediaan alat permainan edukatif, dan dukungan kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal Osing.
Pengenalan budaya sejak usia dini menjadi strategi penting untuk memastikan keberlanjutan identitas budaya di tengah perubahan zaman. Generasi muda tidak hanya dikenalkan pada teknologi dan ilmu pengetahuan modern, tetapi juga dibangun kesadarannya terhadap nilai-nilai budaya yang menjadi identitas komunitas mereka.
Pertumbuhan wisata sering kali membawa tantangan baru bagi lingkungan. Kemiren menyadari bahwa keberhasilan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian alam.
Karena itu, pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dalam program Desa Sejahtera Astra. Masyarakat didampingi dalam pengelolaan sampah organik dan nonorganik, pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik, pengembangan biogas, serta pembentukan kelompok sadar lingkungan.
Program tersebut mencerminkan penerapan prinsip ekonomi sirkular yang kini menjadi salah satu pendekatan utama dalam pembangunan berkelanjutan. Limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain Kemiren, Astra melalui Yayasan Astra dan Yayasan Dharma Bhakti Astra juga melakukan pembinaan kelompok tani buah naga di Desa Sumbermulyo, wilayah Desa Sejahtera Astra Banyuwangi.
Pendampingan dilakukan mulai dari penguatan organisasi kelompok tani, peningkatan kompetensi budidaya organik, perbaikan kualitas pascapanen, hingga fasilitasi akses pembiayaan dan pemasaran.
Hasilnya sangat signifikan. Produksi buah naga meningkat dari 316 ton pada 2021 menjadi 595 ton pada 2025. Dalam periode yang sama, omzet kelompok tani melonjak dari Rp1,9 miliar menjadi Rp11,9 miliar.
Keberhasilan tersebut diperkuat dengan diperolehnya sertifikasi budidaya organik yang membuka akses pasar lebih luas. Produk buah naga Banyuwangi kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan menembus pasar ekspor seperti Singapura dan Hong Kong.
Tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, petani juga mengembangkan produk bernilai tambah seperti sale buah naga dan buah naga dehidrasi yang memiliki daya saing lebih tinggi.
Keberhasilan Kemiren mendapatkan berbagai penghargaan, mulai dari Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), Wonderful Indonesia Impact, ASEAN Tourism Award 2025, hingga masuk dalam The Best Tourism Village Upgrade Programme 2025 menjadi pengakuan atas keberhasilan model pembangunan yang dijalankan.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Kemiren kini menjadi contoh bagaimana budaya, ekonomi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan.
Di tengah tantangan globalisasi dan urbanisasi yang semakin kuat, Desa Sejahtera Astra Kemiren memberikan pelajaran penting bahwa masa depan desa tidak harus dibangun dengan meninggalkan identitas budaya. Sebaliknya, budaya dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk menciptakan kesejahteraan, memperkuat ketahanan sosial, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kemiren membuktikan bahwa menjaga tradisi bukan berarti tertinggal. Justru dari akar budaya yang kuat, sebuah desa mampu melangkah maju dan menjadi inspirasi pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.
