Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Kupang memaparkan sejumlah persoalan yang masih dihadapi dalam penanganan TB dan HIV. Mulai dari keterbatasan obat HIV, belum optimalnya layanan pengobatan TB di seluruh fasilitas kesehatan, hingga masih kuatnya stigma sosial terhadap penderita.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menilai persoalan TB dan HIV tidak bisa dilihat sebatas angka kasus atau persoalan medis semata. Menurutnya, ada dimensi kemanusiaan yang harus menjadi perhatian bersama.

Ia menggambarkan bagaimana banyak keluarga menghadapi tekanan psikologis dan ekonomi akibat penyakit tersebut. Tidak sedikit pasien yang memilih menutup diri karena takut dikucilkan lingkungan sosialnya.

“Ada keluarga yang harus memilih antara membeli obat atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada anak muda yang kehilangan rasa percaya diri karena stigma sosial. Ini bukan hanya soal penyakit, tetapi tentang kehidupan manusia,” ujar Serena.

Menurutnya, stigma menjadi salah satu faktor yang memperberat penanganan HIV maupun TB. Banyak masyarakat yang masih takut melakukan pemeriksaan kesehatan karena khawatir mendapat diskriminasi.