Agustin mengakui bahwa pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama ini mendapatkan perhatian dan sorotan luas dari masyarakat. Berbagai kritik muncul terkait sejumlah persoalan yang terjadi di lapangan, mulai dari kualitas pelayanan hingga tata kelola program.

Meski demikian, ia menilai sebagian kritik yang berkembang tidak selalu didukung data yang akurat sehingga berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

“Program MBG memang mendapat sorotan yang luar biasa. Namun ada juga kritik yang tidak berbasis data sehingga menimbulkan narasi yang dapat menyesatkan masyarakat. Seolah-olah program ini gagal atau menjadi ladang korupsi, padahal tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas gizi masyarakat,” katanya.

Agustin yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Jasa Marga Tollroad Maintenance (JMTM) menyebut sejumlah isu yang sering menjadi perhatian publik antara lain kasus keracunan makanan, kualitas dan porsi menu, dugaan praktik jual beli kuota, pengadaan perlengkapan, hingga tata kelola dapur MBG.