Selain menyerap tenaga kerja, kebutuhan bahan baku juga sebagian besar dipenuhi dari hasil pertanian dan peternakan lokal. Sayuran dipasok petani setempat, sedangkan telur dan daging sapi berasal dari peternak UMKM di Kabupaten Belu.

Menurut Johni Asadoma, pola pemberdayaan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama program MBG karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Ini bukan hanya soal makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.

Namun demikian, pengelola SPPG mengaku masih menghadapi persoalan serius terkait pasokan gas LPG ukuran 50 kilogram yang sulit diperoleh di Kabupaten Belu. Akibatnya, mereka harus menggunakan beberapa tabung gas ukuran 12 kilogram yang membuat proses memasak menjadi kurang efektif.

Selain faktor biaya operasional yang meningkat, pengelola juga mengeluhkan persoalan pengelolaan sampah. Keterbatasan armada pengangkut menyebabkan sampah operasional dapur belum dapat diangkut setiap hari.

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur menegaskan Pemerintah Provinsi NTT akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten guna mencari solusi bersama, termasuk dalam penanganan sampah dapur MBG.