FK-Paris Saint-Germain (PSG) pernah mengguncang dunia sepak bola dengan membentuk superteam bertabur bintang. Kehadiran pemain top seperti Lionel Messi, Neymar Jr, Kylian Mbappé, Sergio Ramos, hingga Georginio Wijnaldum membuat banyak pihak percaya bahwa PSG akan segera merajai Liga Champions.
Namun kenyataannya, proyek besar itu justru gagal memenuhi ekspektasi. Dominasi mereka di Ligue 1 tak cukup untuk menutup kegagalan berulang di pentas Eropa. Ego pemain, minimnya kohesi tim, dan tekanan tinggi dari media menjadi faktor utama kegagalan era tersebut.
Musim 2024/25 menjadi titik balik. Di bawah komando Luis Enrique, PSG tidak hanya lebih stabil, tapi juga menampilkan sepak bola kolektif yang efektif. Hasilnya? Treble winners: juara Ligue 1, Coupe de France, dan yang paling ditunggu, Liga Champions UEFA.
Luis Enrique menghapus ketergantungan pada individu dan membangun filosofi bermain modern yang menekankan disiplin taktik dan kerja sama tim. Pemain muda seperti Warren Zaïre-Emery dan Bradley Barcola tampil luar biasa, sementara para senior lebih menyatu dalam sistem permainan sang pelatih asal Spanyol.
Kesuksesan ini menjadi bukti bahwa kunci kemenangan tidak hanya soal nama besar, tetapi juga kemampuan membangun tim yang solid dan terorganisir. PSG akhirnya keluar dari bayang-bayang kegagalan masa lalu dan menegaskan diri sebagai kekuatan baru di Eropa.
PSG, treble winners 2024/25—era baru telah dimulai, dan semuanya dimotori oleh Luis Enrique.
