FaktahukumNTT.com, Kupang – Bumi kini menangis, dan seorang anak negeri menjawabnya dengan cinta. Adalah Bapa Lukas Onek Narek, SH, pria sederhana, mantan aktivis lingkungan dan legislator dari Flores Timur dan Lembata, yang kini kembali menebarkan api kecil harapan dari desa ke desa di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sibuk mengejar keuntungan, beliau memilih jalan sunyi—menyelamatkan Ibu Bumi dan Anak Cucu.
Misi mulia ini dibawanya lewat kampanye back to basic, back to nature, bersama PT Momen Global International. Ia tidak hanya bicara, namun bertindak. Menjangkau hampir 80% desa dan kelurahan di seluruh kecamatan Kabupaten Kupang, Bapa Lukas membawa pesan kehidupan: kita semua bertanggung jawab atas masa depan bumi dan generasi penerus.
Di atas podium desa, di hadapan para petani, ibu rumah tangga, tokoh agama, pemuda, bahkan perangkat desa, ia berkhotbah dengan bahasa hati:
“Selamatkan tanah kita. Jangan wariskan bumi yang rusak untuk anak cucu kita. Tanah kering, tanaman sakit, tubuh manusia rapuh. Semua karena kita salah merawatnya.”
Di desa Tesbatan 2, suara Bapa Lukas menggema dalam aula desa yang sederhana. Ia mengajak warga membuka mata atas ancaman nyata: kerusakan tanah akibat pupuk kimia, gagal panen, makanan beracun, hingga generasi masa depan yang terancam cacat dan tak cerdas. Solusinya? Kembali ke pertanian organik.
Bersama produk pupuk tetes SOLF Super Organik dan SOLF untuk peternakan, Bapa Lukas menawarkan jalan hidup baru: bertani dan beternak dengan cinta terhadap alam. Ia menjelaskan detail kandungan SOLF—multifungsi, praktis, anti hama, anti cacing, dan kaya nutrisi. “Tiga tetes cukup untuk satu liter air. Dan hasilnya luar biasa,” katanya sambil tersenyum.
Namun, kampanye ini tak berhenti pada pangan. Ia juga memperkenalkan teknologi kesehatan revolusioner: Nano dan Far Infra Red. Lewat terapi air bertenaga sinar infra merah jarak jauh, masyarakat disuguhkan pengobatan alternatif yang tidak hanya murah, tetapi juga ramah tubuh dan lingkungan.
Peserta dibuat terdiam. Air yang mereka minum menghangatkan tubuh, menyembuhkan, dan memberi harapan.
“Kami sangat terkesan. Kami harus berubah. Demi kesehatan kami, demi anak cucu kami,” ujar Bapa Teofilus, salah satu peserta.
Bapa Lukas tak lelah. Dalam tubuh pejuang lingkungan berjiwa lembut ini, masih mengalir darah aktivis Solidaritas Anawim dan WAHLI NTT. Kini, bersama PT Momen, ia tidak sekadar menjual produk, tapi menawarkan masa depan yang lestari, sehat, dan mandiri bagi masyarakat desa.
Ia percaya penuh pada filosofi: “Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo. Batu berlubang bukan karena kekuatan, tetapi karena tetesan air yang terus-menerus.”
“Begitulah saya kampanye. Dari desa ke desa. Dari hati ke hati.”
Dalam sunyi, langkahnya terus menyusur jalan-jalan tanah di desa-desa Kupang. Dan dalam langkah kecil itu, suara bumi kembali terdengar:
“Terima kasih, anakku.”
