Selain itu, transisi energi menjadi kunci jangka panjang untuk meredam defisit migas. Pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, serta optimalisasi produksi migas domestik harus berjalan seiring. Tanpa perubahan mendasar di sektor energi, defisit migas berpotensi terus menggerus surplus perdagangan nonmigas.
Dari perspektif pertumbuhan ekonomi, surplus neraca perdagangan memang memberikan ruang bagi stabilitas makro. Namun, pertumbuhan yang berkelanjutan membutuhkan struktur perdagangan yang lebih seimbang. Ketergantungan berlebih pada SDA berisiko menciptakan pertumbuhan semu yang sangat sensitif terhadap fluktuasi eksternal. Diversifikasi ekspor dan penguatan industri pengolahan menjadi prasyarat untuk keluar dari jebakan tersebut.
Surplus November 2025, dengan segala catatan positifnya, harus dibaca sebagai momentum evaluasi, bukan titik akhir. Angka surplus 2,66 miliar dolar AS menunjukkan bahwa mesin perdagangan Indonesia masih bekerja. Namun, alarm migas yang terus menyala mengingatkan bahwa fondasi ketahanan eksternal belum sepenuhnya aman.
