Sesekali, senyum tampak mengembang di wajah kedua pemimpin daerah itu. Bukan sekadar ekspresi formal, tetapi refleksi dari kebahagiaan melihat masyarakat bergerak bersama menjaga lingkungan yang mereka cintai.
“Alam kita luar biasa indah. Tapi kalau tidak dijaga, orang datang hanya sekali,” ungkap Yosef Lede di sela kegiatan, mengingatkan bahwa masa depan pariwisata bergantung pada kesadaran hari ini.
Tablolong sendiri bukan nama yang asing. Diambil dari sebuah kampung nelayan kecil di ujung kawasan, pantai ini telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat pesisir. Lautnya bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memberi penghidupan. Di perairan sekitar, arus migrasi ikan dari Laut Timor menuju Laut Sawu menjadikan wilayah ini kaya biota laut.
Tak heran jika Tablolong dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Nusa Tenggara Timur. Di balik setiap gelombang, tersimpan potensi ekonomi yang menopang banyak keluarga.
Namun, keistimewaan Tablolong tidak berhenti pada hasil lautnya. Garis pantainya yang luas dan relatif alami menjadikannya lokasi favorit bagi pecinta memancing. Berbagai kompetisi, dari tingkat lokal hingga internasional, pernah digelar di sini, menjadikan Tablolong sebagai titik temu antara hobi, wisata, dan potensi global.
