Kemunculan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir telah menghadirkan perdebatan luas di lingkungan pendidikan tinggi. Di satu sisi, teknologi tersebut membantu percepatan akses informasi, pengolahan data, hingga penyusunan dokumen akademik. Namun di sisi lain, penggunaan tanpa batas berpotensi menimbulkan persoalan etika, plagiarisme, hingga penurunan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha Ina Rohi Detha, M.Si., menegaskan bahwa universitas mengambil posisi moderat dalam menyikapi perkembangan tersebut.

Menurutnya, AI merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Karena itu, pendekatan yang dipilih bukanlah pelarangan, melainkan pengaturan yang memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab dan tetap mendukung pencapaian kompetensi akademik.

“Perkembangan teknologi tidak bisa dibendung. Karena itu universitas harus hadir melalui regulasi yang memberikan batasan etis yang jelas bagi dosen maupun mahasiswa,” ujar Prof. Annytha.