“Yang bergerak akan ditemani. Yang diam akan tertinggal,” kata Melki menegaskan.

Momentum ini menandai perubahan arah: pemerintah tidak lagi memperlakukan pemuda sebagai penonton agenda pembangunan, tetapi sebagai aktor penentu arah ekonomi dan budaya lokal. Di tengah era distraksi digital dan tingginya angka pengangguran terselubung, pelatihan ini menjadi seruan: pemuda tidak boleh netral terhadap masa depan.

“Kalau pemuda hanya menonton, kota dan kampung ini akan diambil alih oleh yang siap. Kita tidak mau jadi penonton di rumah sendiri,” tutup Gubernur.

Dengan start ini, NTT mengirim sinyal ke publik: revolusi kreatif pemuda bukan wacana, mesin pertamanya baru saja dinyalakan.