Oleh Redaksi FaktahukumNTT.com | Lelogama, Amfoang Selatan – 19 Juni 2025
FaktahukumNTT.com, Di tengah udara sejuk yang menyapu perbukitan Amfoang Selatan, Lelogama hari itu bukan lagi sekadar sebuah desa. Ia menjelma menjadi panggung budaya yang hidup, penuh warna dan makna. Tak ada gemerlap layar LED. Tak ada gemuruh sound system modern. Hanya tenda sederhana beralaskan karpet biru dan hijau yang lembab oleh embun pagi, tanah lapang yang dipijak puluhan kaki mungil, dan semangat yang mengalir tulus dari setiap detak jantung anak-anak yang menari.
Irama Bonet, tarian tradisional Amfoang, mengalun dari pengeras suara kecil. Tapi dentingnya menyentuh jauh lebih dalam dari sekadar telinga. Ia menyelinap ke dalam hati—membangkitkan kenangan, menghidupkan kebanggaan.
Mereka datang dari penjuru desa-desa di sekitar Amfoang. Ada yang berjalan kaki. Ada pula yang menumpang motor atau bus pick up sewaan bersama guru, orang tua dan pendampingnya. Wajah-wajah kecil itu dipoles dengan harapan dan cinta. Baju adat dikenakan dengan penuh percaya diri. Rambut dikepang rapi oleh tangan ibu atau kakak perempuan mereka. Tak peduli suasana dingin. Hari itu, milik mereka.
Anak-anak berdiri berjejer, menanti giliran untuk tampil. Ada yang memegang alat peraga tarian. Ada yang terus-menerus membetulkan ikat kepala. Namun tak satupun dari mereka terlihat lelah. Sebab mereka tahu, untuk sekali dalam hidup mereka, mereka bukan hanya penonton, tapi pemeran utama dalam cerita budaya mereka sendiri.
Bupati Kupang, Yosef Lede, hadir dengan wajah hangat dan mata yang penuh sorot haru. Ketika berdiri dan memegang mikrofon, ia tidak berbicara seperti pejabat. Ia berbicara seperti seorang ayah, kepada anak-anaknya sendiri.
“Banggalah jadi anak Amfoang,” seru Yosef Lede, suaranya menggema ke seluruh penjuru lapangan. “Nikmatilah budaya kita, cintai tanah ini, dan jadikan warisan ini sebagai pelita hidup kalian.”
Ketika Budaya Bukan Lagi Hanya Kenangan
Di tengah laju globalisasi yang kian deras, budaya lokal kerap tertinggal di sudut-sudut ingatan. Anak-anak lebih akrab dengan lagu TikTok daripada syair pujian adat. Lebih mengenal pahlawan fiksi dari luar negeri daripada tokoh adat di kampungnya sendiri.
Tapi hari itu, Festival Budaya Anak Amfoang mengubah segalanya. Anak-anak menyanyikan lagu daerah. Mereka menceritakan asal muasal dan makna dari motif kain tenun Amfoang dengan bangga. Mereka (Aisa, Bata, Falo) yang menceritakan dan menyingkap makna yang tersirat dibalik motif adat amfoang—bukan hanya karena disuruh, tetapi karena mereka menikmatinya.
“Kami tak ingin budaya ini hanya menjadi cerita. Kami ingin ia menjadi napas. Menjadi kebiasaan. Menjadi milik anak-anak ini yang akan melanjutkan hidup di tanah ini,” ujar kaka Emi seorang pendamping sambil memandu murid-muridnya dalam cerita.
Sentuhan Emosional Seorang Pemimpin
Yosef Lede menyampaikan sambutannya dengan jeda-jeda panjang. Seolah menahan emosi. Kadang matanya mengarah pada sekelompok anak yang duduk di kursi kayu, diam-diam menggenggam tangan temannya sambil menyimak. Kadang suaranya melemah, saat berbicara tentang betapa pentingnya memberi ruang kepada anak-anak untuk tampil, bertumbuh, dan dikenal.
“Anak-anak kita ini punya talenta, punya mimpi, punya budaya. Tapi kita seringkali menutup ruang itu karena terlalu sibuk membuat acara untuk orang dewasa. Hari ini, saya minta—beri mereka panggung. Biarkan mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya.”
Tak sedikit yang terdiam. Beberapa orang tua tampak meneteskan air mata. Tak karena sedih, tapi karena bangga dan terharu. Anak-anak mereka hari ini bukan hanya murid sekolah. Mereka adalah penjaga warisan leluhur.
Budaya yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Dihidupkan
Festival ini juga menghadirkan edukasi makanan lokal bergizi. Anak-anak dikenalkan pada jagung muda, ubi rebus, daun kelor, daun pepaya yang sudah diolah jadi cemilan. Makanan yang selama ini dianggap sederhana, hari itu menjadi sumber energi, simbol kekayaan lokal yang harus dijaga dan dikembangkan.
Tarian tradisional pun menjadi alternatif yang segar di tengah dominasi gadget. Anak-anak tertawa lepas. Mereka berlari, saling mengejar, saling memberi semangat. Tak ada pemenang, tak ada yang kalah. Semua belajar satu hal yang sama: bahwa kebahagiaan bisa datang dari akar budaya kita sendiri.
Di penghujung sambutannya, Bupati Kupang secara simbolis memberikan dukungan berupa Rp10 juta untuk mendukung penyelenggaraan festival. Namun, bukan nominalnya yang menggugah, melainkan makna dan kesungguhan di baliknya.
“Ini bukan soal besar kecilnya angka. Ini tentang komitmen. Bahwa kami di pemerintah tidak akan tinggal diam saat budaya kita perlahan dilupakan. Anak-anak ini butuh kita. Dan kita butuh mereka untuk membawa budaya kita ke masa depan,” ucap Yosef.
Matahari mulai tergelincir ke barat. Anak-anak semakin asyik dalam setiap pentas budaya. Karpet biru dan hijau merasakan hentakan kaki berirama, kini ia tak sekadar alas. Ia telah menjadi saksi diam dari sebuah kebangkitan—kebangkitan kebanggaan menjadi anak Amfoang.
Seruan “Banggalah jadi anak Amfoang!” tak hanya menggema di mikrofon. Ia hidup di hati. Ia terbawa pulang bersama anak-anak, dibisikkan ibu ke anak, ditulis guru di papan tulis, dan akan dikenang sebagai hari di mana budaya kembali disematkan ke dada generasi baru.
Hari itu, Amfoang tak hanya merayakan budaya. Ia menanamkan cinta.
