Bank Indonesia Luncurkan Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Ciptakan Lapangan Kerja
FHC, Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali ditegaskan sebagai strategi utama menjaga ketahanan ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) mengambil langkah konkret dengan meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu untuk Penciptaan Lapangan Kerja dan Ekonomi Kerakyatan yang digelar di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Peluncuran program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi rakyat sekaligus mencetak generasi wirausaha baru yang produktif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global. Acara itu dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, jajaran Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian UMKM, pimpinan perbankan nasional, asosiasi pelaku usaha, pengelola pondok pesantren, serta ribuan pelaku UMKM binaan Bank Indonesia dari berbagai daerah.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi nasional, tetapi juga merupakan fondasi utama dalam penciptaan lapangan kerja dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Perry, ketika ekonomi dunia menghadapi tantangan berupa perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok global, Indonesia perlu memperkuat kemandirian ekonominya melalui pengembangan kewirausahaan dan peningkatan kapasitas UMKM.
“UMKM merupakan fondasi penciptaan lapangan kerja dan generasi wirausaha masa depan yang produktif dan berdaya saing. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, penguatan UMKM menjadi kunci untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Perry Warjiyo.
Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 menunjukkan betapa strategisnya peran UMKM dalam perekonomian nasional. Sektor ini berkontribusi sebesar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap sekitar 90 persen tenaga kerja nasional, serta menyumbang 15 persen pangsa ekspor Indonesia.
Kontribusi tersebut menjadi alasan kuat mengapa pemerintah dan Bank Indonesia terus menempatkan UMKM sebagai prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional, sejalan dengan program prioritas pemerintah dan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi kerakyatan.
Perry menjelaskan, Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu dirancang tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi menciptakan dampak nyata melalui pengembangan model bisnis yang telah teruji di lapangan.
“Pemilihan model bisnis terbaik dari UMKM binaan BI dilakukan agar usaha yang dikembangkan benar-benar relevan dan memiliki peluang keberhasilan yang tinggi. Tujuannya adalah menciptakan wirausaha yang mampu menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi rakyat,” katanya.
Program tersebut akan dijalankan secara nasional melalui jaringan 46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Implementasinya melibatkan sinergi dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, sektor perbankan, asosiasi bisnis, lebih dari 3.000 UMKM binaan BI, serta sekitar 1.500 pondok pesantren yang telah mendapatkan program pemberdayaan ekonomi.
Menurut Perry, keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal usaha, tetapi juga oleh kualitas kewirausahaan yang dimiliki para pelakunya. Oleh sebab itu, program transformasi ini menempatkan pendidikan kewirausahaan, evaluasi usaha, inovasi produk, dan penguatan jejaring bisnis sebagai bagian penting dalam proses pendampingan.
“Motivasi yang kuat, semangat pantang menyerah, dan kemampuan membangun kerja sama merupakan fondasi penting bagi kemajuan UMKM,” tegas Perry.
Dalam pelaksanaannya, terdapat empat program unggulan yang menjadi tulang punggung Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu tahun 2026.
Program pertama adalah **Cangkir Barista**, yang difokuskan pada penguatan industri kopi nasional. Program ini menargetkan sertifikasi internasional bagi 400 barista sekaligus pendampingan dalam membangun usaha kedai kopi. Melalui program ini, BI ingin memperkuat rantai nilai industri kopi dari petani hingga pasar internasional.
Program kedua adalah **Citra Nusa**, yang bertujuan meningkatkan daya saing UMKM sektor wastra Indonesia di pasar global. Sebanyak 300 pelaku usaha akan mendapatkan penguatan kapasitas teknis, kewirausahaan, serta inovasi desain produk agar mampu menembus pasar ekspor dan memperluas penyerapan tenaga kerja.
Selanjutnya, program **Air Berkah Indonesia** difokuskan pada pemberdayaan ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berbasis sumber daya lokal. Program ini menargetkan 200 pesantren sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan.
Sementara itu, program **Tani Berkah Indonesia** mendorong pengembangan pertanian modern berbasis teknologi greenhouse di lingkungan pesantren. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, program ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan apresiasi atas sinergi yang dibangun Bank Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren.
Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan ekonomi umat apabila didukung dengan akses pembiayaan, teknologi, dan pendampingan usaha yang memadai.
“Melalui sinergi yang kuat dan berkelanjutan, kita berharap ekonomi syariah, khususnya yang berbasis pondok pesantren, dapat semakin berkembang dan menghadirkan keberkahan yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujar Nasaruddin.
Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu dinilai selaras dengan arah pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi inklusif.
Melalui pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor, program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak wirausaha tangguh yang tidak hanya bertahan di tengah tantangan global, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan menuju Indonesia Emas 2045.
Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Bank Indonesia optimistis UMKM Indonesia akan semakin kuat, modern, dan mampu menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
