FaktahukumNTT.comOpini | Di tengah lanskap pertanian di Desa Penfui Timur, sebuah momentum penting kembali digulirkan. Pada Selasa, 17 Juni 2025, Bupati Kupang, Yosef Lede, hadir langsung di tengah para petani Kelompok Tani Manekat, menandai Gerakan Tanam Jagung Musim Tanam II pada lahan seluas 25 hektar untuk jagung dan 30 hektar untuk padi.

Namun yang lebih penting dari sekadar simbolik mencangkul tanah atau menebar benih, adalah pesan dan peringatan keras yang disampaikan Bupati Yos: “Jangan hanya heboh di seremoni, tapi tidak ada tindak lanjut.” Kalimat ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah refleksi mendalam atas seringkali terjebaknya program-program pertanian dalam pola seremoni tanpa substansi.

Dari Seremoni ke Aksi Nyata

Sudah terlalu lama dunia pertanian kita digelayuti oleh pendekatan proyek dan pencitraan. Bantuan alat mesin pertanian (alsintan), benih, pupuk, hingga traktor kerap kali hanya menjadi komoditas politik atau pencitraan di media sosial. Yos Lede mengkritik tegas pola ini. Baginya, bantuan yang diberikan harus diiringi tanggung jawab moral dan kerja keras.

“Saya kasih traktor bukan untuk diposting-posting. Tapi untuk dimanfaatkan. Kalau tidak tanam, saya tarik kembali,” tegasnya.

Ini adalah bentuk kepemimpinan berbasis akuntabilitas, sebuah pesan bahwa kepercayaan yang diberikan negara harus dibayar dengan kerja nyata di lapangan. Tidak ada lagi ruang bagi petani-petani yang berpikir pragmatis dan menyia-nyiakan peluang.

Ketahanan Pangan dan Keadilan Sosial

Bupati Yos menyampaikan bahwa seluruh gerakan pertanian ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari agenda besar ketahanan pangan nasional—yang digaungkan Presiden Prabowo—termasuk program makan bergizi gratis bagi anak-anak sekolah.

Di sinilah visi besar Yos Lede menjadi penting. Ia tidak sekadar membagi benih, pompa air, dan traktor. Ia sedang menyusun fondasi Kabupaten Kupang Emas melalui lumbung-lumbung pangan desa. Ketahanan pangan harus dibangun dari desa, dengan pendekatan partisipatif dan perencanaan matang.

“Kalau air tidak tersedia, jangan tanam padi. Tanam jagung semua. Kami bantu irigasi,” ujarnya. Ini menunjukkan kesadaran penuh akan kondisi ekologis dan adaptasi iklim—bukan sekadar ikut-ikutan menanam komoditas populer.

Petani, Penyuluh, dan Perubahan Paradigma

Dalam sambutannya, Bupati Yos juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian. Tidak boleh lagi ada penyuluh yang sekadar menjadi perantara administrasi bantuan, tanpa menyusun rencana produksi yang menyeluruh dari tanam hingga panen.

Pernyataan ini adalah seruan keras akan perlunya revolusi mental dalam birokrasi pertanian. Petani tidak boleh dibiarkan sendiri. Mereka harus didampingi, diajarkan, dan diperjuangkan hak-haknya. Penyuluh menjadi jembatan antara kebijakan dan kenyataan di ladang.

Sebuah Model Kepemimpinan Lokal yang Tegas dan Visioner

Apa yang ditunjukkan oleh Yosef Lede bukan hanya gaya komunikasi keras dan blak-blakan. Lebih dari itu, ia sedang menyampaikan pesan bahwa kabupaten ini tidak bisa dibangun dengan basa-basi. Pertanian harus menjadi tulang punggung. Swasembada pangan bukan hanya jargon, tapi jalan hidup.

Yos Lede tidak sedang membangun monumen. Ia sedang membangun mentalitas kemandirian pangan. Dan semua dimulai dari sawah, dari tanah desa, dari tangan-tangan petani yang tidak hanya butuh bantuan, tapi juga butuh arah, kepemimpinan, dan kepercayaan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.