Dasa Cita 1 berangkat dari kritik atas pendekatan tersebut. Pola lama tanam–panen–jual diarahkan menjadi tanam–panen–olah–kemas–jual. Dengan demikian, desa tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku, melainkan pelaku aktif dalam rantai ekonomi. Perubahan ini penting karena nilai tambah terbesar dalam ekonomi modern justru berada pada proses pascapanen: pengolahan, standardisasi mutu, pengemasan, dan distribusi.

Pendekatan One Village One Product (OVOP) yang diluncurkan pada 2025 menjadi instrumen utama Dasa Cita 1. Melalui OVOP, potensi lokal; baik pertanian, peternakan, perikanan, pangan olahan, produk herbal, hingga kerajinan dan tenun ikat, dipetakan dan dikembangkan secara terarah. Pendampingan terhadap ratusan UMKM, fasilitasi sertifikasi, perbaikan desain kemasan, serta pembukaan akses pasar melalui NTT Mart menunjukkan upaya negara untuk hadir hingga ke level mikro.

Dari sudut pandang kebijakan publik, OVOP mencerminkan pendekatan place-based development, yakni pembangunan yang bertumpu pada karakteristik dan keunggulan lokal. Ini adalah pendekatan yang relevan bagi NTT, provinsi dengan keragaman sosial-budaya dan kondisi geografis yang tidak seragam. Kebijakan seragam cenderung gagal menjawab kompleksitas tersebut.

Antara Potensi dan Tantangan Implementasi

Meski demikian, keberhasilan Dasa Cita 1 tidak bisa hanya diukur dari jumlah produk unggulan atau UMKM binaan. Ukuran utamanya adalah apakah pendapatan rumah tangga desa meningkat secara berkelanjutan dan apakah lapangan kerja produktif benar-benar tercipta. Di sinilah tantangan implementasi muncul.