Ekonomi NTT Melejit 5,14%! BI Beberkan Strategi Sinergi Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi 2026
FHC, Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat pertumbuhan impresif sebesar 5,14 persen pada 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 3,80 persen dan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Capaian tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adi Doyo Prakoso, dalam kegiatan Sasando Dia (Sante-Sante Duduk Baomong Deng Media) bertema Sinergi Stabilitas dan Penguatan Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2026 di Kupang.
Adi Doyo menegaskan, pertumbuhan 5,14 persen menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. “Ini patut menjadi kebanggaan bersama karena menunjukkan ekonomi NTT tumbuh lebih kuat dan berkualitas,” ujarnya.
Dari sisi kesejahteraan, peningkatan pertumbuhan berdampak pada kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita NTT tahun 2025 menjadi Rp25,84 juta per tahun. Angka tersebut naik Rp1,57 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, stabilitas harga tetap terjaga. Inflasi NTT sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,39 persen, berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Memasuki Februari 2026, inflasi tercatat 3,42 persen dan masih dalam kisaran terkendali.
Menurut Adi, terdapat tiga faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi 2025. Pertama, peningkatan produksi sektor pertanian. Kedua, peningkatan aktivitas perdagangan seiring akselerasi program hilirisasi dan ekspor. Ketiga, perbaikan neraca perdagangan, di mana defisit menyempit dari minus 37,53 persen menjadi minus 32,34 persen.
Di sisi sistem pembayaran, digitalisasi menunjukkan lonjakan signifikan. Sepanjang 2025 tercatat lebih dari 19 juta transaksi non-tunai di NTT, didukung penambahan puluhan ribu merchant QRIS baru. Atas capaian tersebut, Pemerintah Provinsi NTT meraih penghargaan TP2DD Award 2025 sebagai provinsi terbaik kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, sementara Kota Kupang juga meraih predikat kota terbaik di kawasan yang sama.
Memasuki 2026, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi NTT berada pada kisaran 4,94–5,40 persen. Optimisme ini didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang diperkirakan meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, serta inflasi yang tetap terjaga dalam sasaran nasional.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi efektif. Langkah tersebut diperkuat dengan operasi pasar, gerakan tanam, hingga pemantauan harga harian dan mingguan di sejumlah kabupaten/kota.
Bank Indonesia juga menyiapkan kebutuhan uang layak edar sebesar Rp1,17 triliun menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026 guna memastikan kelancaran transaksi masyarakat.
Selain itu, penguatan sektor riil dilakukan melalui pengembangan 58 UMKM champion di seluruh kabupaten/kota serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui program edukasi dan perpustakaan keliling.
Adi menegaskan, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
“Pertumbuhan harus berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat NTT,” tutupnya.
