Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Global, Bukti Efektivitas Sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah
FHC, Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dibayangi gejolak harga energi, perubahan iklim ekstrem, dan dinamika geopolitik internasional, Indonesia kembali menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif kuat. Salah satu indikator penting yang mencerminkan stabilitas tersebut adalah tingkat inflasi yang tetap berada dalam kisaran sasaran nasional.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 mencatat inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (*month-to-month/mtm*). Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,08 persen (*year-on-year/yoy*), masih berada dalam rentang target inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5±1 persen.
Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa berbagai instrumen kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga di tengah berbagai tekanan eksternal maupun domestik.
Bank Indonesia menilai terjaganya inflasi dalam kisaran sasaran tidak terlepas dari konsistensi kebijakan moneter yang ditempuh selama ini, serta kuatnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas moneter melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Selain itu, implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional juga dinilai memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis yang menjadi faktor penting dalam pembentukan harga pangan.
Dalam perspektif ekonomi makro, inflasi yang stabil merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan. Tingkat inflasi yang terkendali tidak hanya menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga menciptakan kepastian bagi dunia usaha dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi bisnis.
Inflasi Inti Menunjukkan Stabilitas Fundamental Ekonomi
Salah satu indikator yang mendapat perhatian khusus adalah inflasi inti (*core inflation*), yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian karena tidak dipengaruhi faktor musiman maupun kebijakan harga pemerintah.
Pada Mei 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,23 persen. Meskipun demikian, secara tahunan inflasi inti meningkat menjadi 2,59 persen dari sebelumnya 2,44 persen.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga minyak goreng yang masih menjadi salah satu komoditas konsumsi utama masyarakat. Namun demikian, ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku usaha dinilai tetap terjaga dengan baik sehingga tidak memicu tekanan harga yang berlebihan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan domestik masih tumbuh secara sehat tanpa menciptakan risiko overheating ekonomi. Stabilitas inflasi inti juga menjadi indikator bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia masih berada pada jalur yang tepat dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan momentum pertumbuhan ekonomi.
Harga Pangan Mengalami Tekanan Musiman
Di sisi lain, kelompok *volatile food* atau komponen pangan bergejolak kembali mengalami kenaikan setelah sebelumnya mencatat deflasi pada April 2026.
Pada Mei 2026, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan. Kenaikan harga terutama berasal dari komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras.
Tekanan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor sekaligus. Pertama, gangguan produksi akibat kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah sentra pertanian. Kedua, berakhirnya masa panen raya yang menyebabkan pasokan mulai berkurang. Ketiga, meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Secara tahunan, inflasi kelompok pangan bergejolak meningkat cukup signifikan menjadi 6,24 persen dibandingkan 3,37 persen pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, Bank Indonesia meyakini tekanan tersebut masih bersifat sementara dan dapat dikendalikan melalui penguatan sinergi bersama TPIP dan TPID, termasuk melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Program ini selama beberapa tahun terakhir terbukti efektif dalam menjaga stabilitas pasokan dan distribusi pangan melalui penguatan kerja sama antardaerah, operasi pasar, serta peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Kenaikan Harga Energi Global Pengaruhi Tarif dan Transportasi
Sementara itu, kelompok *administered prices* atau harga yang diatur pemerintah juga mengalami inflasi sebesar 0,52 persen secara bulanan. Meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,69 persen, kelompok ini tetap menjadi salah satu penyumbang inflasi utama pada Mei 2026.
Peningkatan harga terutama terjadi pada komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara. Faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, serta avtur yang mengikuti tren kenaikan harga energi global.
Secara tahunan, inflasi kelompok *administered prices* mencapai 2,07 persen, meningkat dibandingkan 1,53 persen pada April 2026.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa ekonomi nasional masih memiliki sensitivitas terhadap fluktuasi harga energi dunia. Namun demikian, dampaknya relatif dapat dikelola karena pemerintah tetap mempertahankan berbagai kebijakan perlindungan sosial dan subsidi pada sektor-sektor strategis yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Prospek Inflasi Tetap Positif
Ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi Indonesia akan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 maupun 2027. Optimisme tersebut didasarkan pada kuatnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, perbaikan sistem distribusi pangan, serta semakin kuatnya ketahanan ekonomi domestik.
Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, capaian inflasi Mei 2026 menjadi indikator bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi secara berkelanjutan. Keberhasilan tersebut tidak hanya penting bagi dunia usaha dan investor, tetapi juga menjadi faktor utama dalam melindungi daya beli masyarakat serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan fondasi ekonomi yang relatif stabil, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk terus mendorong pembangunan yang inklusif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin kompleks.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
