Faktahukumntt.Com, Takari – Tangis kesedihan masih menyelimuti warga Kelurahan Takari, Kabupaten Kupang, pasca-bencana tanah longsor yang terjadi pada Sabtu malam (1/3/2025) pukul 23.00 WITA.

Peristiwa tragis ini meratakan 9 rumah dengan tanah, sementara 26 rumah lainnya terancam akibat pergerakan tanah yang masih terasa. Sebanyak 151 jiwa dari 35 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi dengan kondisi yang penuh keterbatasan.

Di tengah puing-puing rumah yang hancur, para korban hanya bisa meratapi nasib mereka. Mariam (46), seorang ibu dari tiga anak, tidak kuasa menahan air mata saat menceritakan detik-detik saat rumahnya roboh.

“Kami kehilangan segalanya! Tidak ada yang bisa kami selamatkan, semua tertimbun tanah. Anak-anak saya menangis, kami hanya bisa lari menyelamatkan diri,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Derita di Tengah Ketidakpastian

Saat ini, para korban mengungsi di Aula Sobe Sonbai III Kecamatan Takari, tempat yang telah disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Kupang. Namun, di balik rasa syukur karena masih selamat, tersimpan kekhawatiran tentang masa depan.

“Kami tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Rumah kami hancur, kami tidak punya tempat tinggal lagi,” keluh Petrus (52), seorang warga lainnya yang rumahnya tertimbun.

Kondisi pengungsian pun menjadi tantangan tersendiri. Banyak lansia, balita, ibu hamil, dan penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus. Beberapa korban bahkan mengalami trauma mendalam akibat kejadian ini.

Respon Cepat Pemkab Kupang: Bantuan Dikirim dalam Waktu 24 Jam

Menyikapi bencana ini, Bupati Kupang Yosef Lede turun langsung ke lokasi bersama Kepala Dinas Sosial Paul Liu, Kepala Pelaksana BPBD Semmy Tinenti, Anggota DPRD Habel Mbate, serta camat dan lurah setempat. Dalam kunjungannya pada Selasa (4/3/2025), Bupati Yos Lede menegaskan bahwa penanganan korban harus menjadi prioritas utama.

“Saya tidak mau dengar ada anak-anak korban bencana yang sakit. Pastikan pelayanan kesehatan maksimal dan kebutuhan pengungsi terpenuhi!” tegasnya kepada petugas di lapangan.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, bantuan berupa air bersih, makanan, peralatan mandi, MCK, dan dapur umum telah tersedia bagi para pengungsi. Pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang, termasuk rencana relokasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

DPRD Habel Mbate pun meminta warga untuk segera melaporkan kebutuhan mereka.

“Kalau ada kekurangan di pengungsian, segera laporkan agar kami bisa meneruskannya ke OPD terkait,” ujarnya.

Meski duka masih terasa, harapan mulai muncul. Bupati Yos Lede memastikan bahwa warga yang memiliki lahan akan dibantu pembangunan rumah baru, sementara bagi yang belum memiliki lahan, pemerintah akan mencari solusi agar mereka mendapatkan tempat tinggal yang aman.

“Kami tidak akan membiarkan warga Takari terlantar. Kami akan cari solusi terbaik agar mereka bisa memulai hidup baru,” tambah Yos Lede.

Namun, hingga kini, ancaman longsor susulan masih menghantui. Meri, korban  longsor Kecamatan Takari, menyebut bahwa pergerakan tanah masih terjadi.

“Ini longsor terbesar sejak tahun 2022. Saat itu hanya satu rumah tertimbun, tapi kali ini sembilan rumah tertutup tanah. Kami harus tetap waspada,” jelasnya.

Bencana ini telah merenggut tempat tinggal dan ketenangan warga Takari, tetapi semangat untuk bangkit tetap menyala. Dengan koordinasi berbagai pihak, diharapkan para korban segera mendapatkan hunian layak dan bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Kami berharap ada keajaiban. Kami hanya ingin tempat tinggal yang aman untuk keluarga kami,” tutup Meri, dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.