Politik Manggarai Barat, Politik Manggarai dan Mengenai Kandidasi Bung Sirilus Ladur; “Dari Pizza Allin hingga Comradership dalam Iman terhadap satu pendekatan Ilmu Sosial”

FAKTAHUKUMNTT.COM, Kota dingin Ruteng siang ini kembali mempertemukan saya dan seorang sahabat sejati sejak Sekolah menengah, masa studi di perguruan tinggi di Jogyakarta dahulu dan kini di kota Super Premiun Labuan Bajo. Namanya Venansius Hambut, kini lebih dikenal sebagai seorang Pengelola Podcast yang sangat populer, Banera, di Manggarai Barat, karena pilihan-pilihan diskusi tematiknya yang mencerahkan publik.

Saya kira itulah mengapa dikalangan teman-teman aktivis Mabar, kawan ini belakangan lebih dikenal sebagai Iron-Banera, meski dalam circle Xpio’96 kami yang terbatas, kawan ini disapa berganti-ganti antara Iron atau “Ema’d Jonatan”, Bapanya Jonatan, putranya – mengikuti tradisi “keren” panggilan orang Manggarai terhadap seorang Pria Manggarai yang telah mendapat keturunan, sesuai nama yang disematkan pada sang anak, putra atau putri.

Persis tengah hari dia menelpon dan mengajak saya bersua. “Kita ketemu ka, di Alien ee. Saya pesankan Pizza untuk kita sekarang supaya bisa ngobrol sambil ngemil” katanya diujung telpon tanpa mau mendengar apakah saya bisa datang atau tidak dan kenapa tempatnya harus di Allien – bukan tempat lain yang biasanya kami sepakati sebagai tempat jumpa, dan mengapa Pizza yang dipesannya.

Tapi saya pun akhirnya segera bergegas untuk menjumpainya yang sudah menunggu – ditempat yang disebutkannya diatas dan dengan Pizza yang di pesan. Ini saya penuhi karena memang kami sangat jarang sekali bertemu untuk alasan yang saya sampaikan dibawah nanti, meski sudah satu kota di Lembajo.

Apa yang terjadi selanjutnya mudah ditebak. Demikian pertemuan kami terjadilah dan sudah pada kesempatan pertama jumpa, obrolan langsung mengalir lancar tanpa ada basa-basi pembukaan sama sekali – seperti dalam foto yang dibidik dengan sangat bagus oleh “jagoan” kecilnya Jonatan yang sudah pandai mengambil angle foto (sepertinya dia ada bakat, teman). Saking begitu enaknya pizza yang kami santap disela obrolan dan nyaman tanpa distorsinya tempat pertemuan diatas, pertanyaan yang muncul dibenak saya mengenai tempat dan Pizza diatas lupa saya ajukan karena terasa tidak penting lagi.

Tapi obrolan kami tidak membahas sama sekali situasi politik baik di Manggarai Barat dan apalagi di Manggarai. Alasan paling utama mengenai hal diatas adalah karena, kalau boleh memakai konsep Bourdieu (1993) untuk kepentingan ini dalam hubungannya dengan politik Manggarai Barat,

kami berdua sangat menyadari pilihan posisi (prises de position) kami yang berbeda dan hampir-hampir tak terjembatani dalam banyak cara membaca atau mengartikulasikan pikiran kami – dari segi language games yang dengan sadar dan sengaja dipilih dan dipakai – di seputar power play di kabupaten premium itu.

Mungkin yang membuat kami sama saat ini, hanyalah kesamaan tidak lagi menjadikan Politik di Manggarai sebagai area of concren discourse diskusi kami. Selain karena magnitudo aktivitas yang kami kerjakan di Mabar sendiri sangat menyedot stamina dan atensi besar berdasarkan pilihan posisi yang kami ambil, juga bagi saya khususnya seperti yang sering katakan padanya tentang ini: “saya hanya ikut-ikut dan mengikuti saja tanpa ingin sikut-sikut lagi, Emad Jonat. Apa yang sudah sedang berlangsung dalam politik Mabar bagi saya masih belum visibel sepenuhnya, apalagi mau omong politik Manggarai”

Karena itu kami hanya membahas mengenai perkembangan keadaan personal kami masing-masing lainnya dan bertukar informasi mengenai kabar teman-teman seangkatan lainnya yang kebetulan kami masing-masing jumpai secara sendiri-sendiri. Diskursus obrolan biasanya membahas apakah yang teman dulu “jelek” sudah “ganteng” atau sebaliknya, dari segi sosial, ekonomi, politik? Dengan frame sederhana seperti ini, obrolan tentunya lebih sedikit punyaa bobot ilmiah daripada sekedar gosip.

Dari segi relasi, apa yang berlangsung diantara kami diatas, saya kira bisa digambarkan sebagai relasi di frontier line dalam bahasa Laclau-Mouffe (2005) Kesadaran akan batas-batas yang mempertautkan atau membuat ngarai dalam komunikasi hubungan yang berasal dari priese de position Bourdieuan itulah yang membuat kami memilih tidak bicara politik yang bersifat public – karena kami dengan sadar mengambil posisi berbeda didalamnya dengan motivasi dan alasan masing-masing.

Tetapi yang mengesankan dari hubungan semacam ini, kami dengan sadar tetap memilih dialog sebagai jembatan penghubung relasi meski hasilnya bisa, dan lebih sering, sepakat untuk tidak sepakat. Mungkin karena kesamaan pemahaman akan ini, sebagaimana yang saya tahu kerap terjadi dalam komunikasi hubungan antara saya, bung Iron Ema’d Jonad dan kawan-kawan lainnya, kami dengan sadar lebih ngobrol yang bersifat privat saban berjumpa karena dengan cara itu kami tetap menjaga dan merawat historisitas hubungan partikular kami masing diluar lingkup aktivitas kami kini, suku atau seketurunan sekampung asal yang lebih political dan penuh interese.

Untuk meringkas bagian ini, saya kira itu adalah pilihan terbaik diantara kami yang sudah memilih beda dalam banyak cara melihat dan mengambil posisi dalam perpolitikan tetapi ingin tetap merawat comradership – yang untuk telaah ini saya terjemahkan bebas sebagai “rasa saudara kandung kendati hanya bersahabat”. Saya dan Bung Iron khususnya sepertinya telah secara diam-diam bersepakat pada “garis-garis besar haluan hubungan pertemanan di frontier line semacam ini”, meski tidak pernah membahasnya secara eksplisit dan hanya mengandalkan pemahaman kami mengenai relasi semacam ini dari buku-buku filsafat, sosial, politik dan ekonomi politik dari pemikir-pemikir luar yang kami baca dan kerap diskusikan.

Tapi yang meaningful, tanpa pernah dimaksudkan menjadi seperti itu, inilah justru dasar yang tetap memperkuat kami dalam satu iman yang sama akan kemanjuran pendekatan ilmu (sosial) dalam memaknai apa saja diantara dan diseputar kami berdua berada dan bertindak di dunia yang fana ini. Termasuk dalam relasi personal kami kini.

Mungkin karena itulah ketika tiba-tiba bung Iron tiba-tiba membelokkan obrolan pada kandidasi bung Riel Ladur sebagai caleg DPRD Propinsi pada Pileg 2024 nanti maka obrolan berikutlah yang terjadi – ini saya angkat disini sekaligus untuk menjawab pertanyaan bung Riel yang pernah mengungkapkan dugaannya mengenai topik Politik Manggarai Barat dan Manggarai yang pasti selalu menjadi topik utama obrolan saya dan bung Iron dan apakah kami mendukung kandidasinya atau tidak

IRON (Ema’d Jonat) : Bagaimana menurut teman kandidasi Bung Ril?

Saya: menurut teman?

IRON: oh dia bagus

Saya: saya lihat juga begitu. Caleg Muda dan jangan lupa sekarang sudah “ganteng” secara sosial politik

IRON: Ayo dukung dia teman

Saya: caranya?

Iron: beliau memang WA saya. Dia bilang untuk kita doa yang paling penting.

Saya: kalo begitu, saya tuliskan itu saja

IRON: o, bagus juga kalo begitu. Saya tunggu. Kita bubar dulu ee.

Saya: Ok. SEE YOU.

Demikianlah kami menghentikan obrolan siang kami yang langka di kota dingin Ruteng hari ini dan pulang ke rumah masing-masing dengan satu kesetujuan pandangan dari hati perkawanan yang hangat tetapi tetap dengan pertimbangan dingin bahwa memang kandidasi saudara Riel perlu didukung.

Alasan paling utama pemberian dukungan itu menurut kami kira-kira “bahwa kini sudah tiba saatnya agar orang-orang tidak lagi ragu kepada calon-calon muda yang bisa dan dalam skala tertentu sudah membuktikan kapasitas sosialnya di tengah masyarakat. Dengan semua aktivitas sosial politik yang kita ketahui dilakukan dari posisi sosial aktivisnya bagi perbaikan kehidupan masyarakatnya berada, menurut kami sudah terbukti menunjukkan kapasitasnya.

Tidak ada keraguan sedikit pun terhadap itu, meski dengan semboyannya “bertahan atau berubah”, pada akhirnya hanya masyarakatlah yang bisa menilai apakah beliau layak atau tidak. Doa itu yang bung Iron pintakan pada saya karena dia percaya itu juga cara manjur agar masyarakat luas merestui dan mendukung kandidasi bung Sirilus Ladur, menuju anggota legislatif DPRD Propinsi NTT 2024 nanti.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.