2. PRRI/Permesta 1958: Sejumlah pemimpin Masyumi seperti Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara terlibat. Akibatnya, Masyumi dibubarkan Soekarno tahun 1960 dengan tuduhan makar. Ini pukulan fatal bagi Islam politik modernis.
3. Menguatnya PKI dan Nasakom: Ruang politik diisi PNI, PKI, dan ABRI. NU bertahan karena memilih jalur akomodatif dengan Soekarno, tapi kehilangan posisi tawar ideologis.
Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942 dan Partai Islam di Pentas Nasional 1945–1965 berargumen bahwa kelemahan utama Islam politik adalah “krisis kepemimpinan” dan “tidak adanya konsensus internal”.
Menurut Noer, perpecahan Masyumi-NU dan absennya kompromi dengan nasionalis membuat Islam mudah dimarginalkan ketika Soekarno memilih sistem presidensial kuat.[1987]
5. Kesimpulan
1945–1965 menunjukkan paradoks kekuatan Islam di Indonesia: secara elektoral kuat, secara struktural rapuh.
1. Kekuatan: Basis massa besar, terbukti di Pemilu 1955, dan jaringan ormas yang luas.
2. Kelemahan: Fragmentasi internal Masyumi-NU, ketidakmampuan berkoalisi dengan militer dan nasionalis, serta minimnya kontrol atas alat negara.
