Bagi sebagian kalangan, hal tersebut dapat dilihat sebagai upaya membangun jaringan diplomasi non-formal yang memperluas ruang dialog internasional. Tetapi bagi sebagian yang lain, keterlibatan tokoh dan negara yang memiliki posisi geopolitik kuat justru menimbulkan pertanyaan tentang arah dan orientasi dari forum tersebut. Apakah BOP murni sebuah platform kemanusiaan, ataukah ia juga berpotensi menjadi arena konsolidasi pengaruh politik global?
Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini menjadi relevan karena sejak awal republik ini menempatkan prinsip politik luar negeri *bebas dan aktif* sebagai fondasi. Prinsip tersebut menegaskan bahwa Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu, namun tetap aktif berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Oleh karena itu, setiap forum internasional yang hadir di Indonesia seharusnya tetap berada dalam kerangka kepentingan nasional dan tidak menimbulkan persepsi keberpihakan terhadap konfigurasi kekuatan global tertentu.
Secara akademik, fenomena seperti BOP dapat dipahami sebagai bagian dari praktik *track-two diplomacy*, yaitu diplomasi yang tidak sepenuhnya dijalankan oleh negara, melainkan oleh jaringan aktor non-negara, tokoh politik, lembaga, maupun komunitas internasional. Model ini memang sering digunakan untuk membuka ruang komunikasi yang lebih fleksibel. Namun dalam banyak kasus, jalur ini juga kerap bersinggungan dengan kepentingan strategis negara atau kelompok tertentu.
